12 JAM DI RANGKUL MERAPI JAWA TENGAH

merapi jawa tengah catper

TIMUR AREA CAMP PASAR BUBRAH, AGUSTUS 2017 ©JIBRIEL FIRMAN SOFYAN

Namanya Musfik Nazmuloh sering dipanggil kang mus, nama rimba nya kolor nama native indian nya atsidi tonatiuh yang mempunyai arti filosopi dalam kehidupan sehari-hari adalah sosok pemanah matahari. Tetirah asli kelahiran Suku Sunda.

12 jam dirangkul merapi adalah judul untuk cerita perjalanan saya kali ini yang dimana pada saat itu saya tanpa ada rencana yang serius untuk menapaki hangatnya tanah gunung berapi ini yang sempat beberapa tahun ke belakang terjadi cerita-cerita kelam yang diciptakan olehnya. Nama “Merapi” berasal dari penyingkatan “meru” (= gunung) dan “api”, sehingga nama “merapi” sebenarnya sudah berarti “gunung api” dan menjadi gunung teraktif di Indonesia.



Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edelweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di lereng selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma anggrek endemik Vanda tricolor ‘Merapi’ yang langka[24].

Lereng Merapi sisi barat daya, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak ‘Pondoh’ dan ‘Nglumut’.

Kejadian yang sebenarnya pada saat itu saya berangkat dari kota Sumedang ke kota Semarang untuk mengantar teman saya yang sekolah di UNDIP yang mau wisuda. Sekolah di kelautan tetapi mainnya ke gunung hahaha aneh ya, iya aneh memang. Pada waktu itu saya lupa tanggalnya yang jelas bulan Agustus tahun 2017. Singkat cerita selesai lah prosesi wisuda teman saya itu. Selepasnya prosesi wisuda kami pulang ke kontrakan yang berada di Tembalang, bukan kontrakan sih lebih ke basecamp nya para penyelam hihihi keren kan, kalau tidak salah pasti benar hehe nama basecamp nya dikenal BC MDC (basecamp marine diving club).

Malam hari di BC MDC adalah malam terakhir sebelum kepulangan kami ke kampung halaman (sumedang). Pada saat itu terjadi obrolan manja diantara kami berdua, sambil mengaduk kopi dan gula yang baru saja di tuangi air panas saya membuka pembicaraan

Musfik : “bil, lu kan udah wisuda nih selepas dari itu gw gatau kapan lagi ke semarang kalau bukan untuk mengantar lu dalam urusan kuliah, gw mau lah sebelum kita balik kanan nih kita naik gunung dulu tapi yang enggak menyita banyak waktu istirahat, lu kan pasti cape setelah seharian tadi ceremony”

Sambil sibuk dengan barang pemberian orang-orang yang peduli sama dia sebagai symbol ucapan selamat, dia menjawab

Jibriel : “benar juga, ayo besok kita naik ke merapi tapi tektokan saja (tektok adalah bahasa para pendaki naik gunung tanpa camp) sekalian gw mau ceremony diatas pake toga (topi wisuda)”

Dalam hati, memang saya ingin sekali bisa menapaki tanah hangat merapi, bisa merasakan dinginnya jalur kartini, bisa memeluk kabut-kabut di watu gajah uuhhh senang sekali rasanya dapat kabar dari nya dan mau mengajak saya naik merapi, yang saya tahu pendakian ini yang kedua kali baginya yang saya tahu juga untuk pengalaman pertama dia naik merapi dia pernah cerita dan merasakan getir nya perasaan campur aduk ketika melihat langsung erupsi nya gunung berapi ini dengan jarak yang sangat dekat, dia juga pernah cerita pengalamannya akan dia tulis tapi sampai sekarang saya belum melihat karya tulisnya mungkin lupa hehehe, kalau ada kesempatan mungkin akan saya tulis di blog ini akan saya minta dia untuk menjadi narasumber saya assiikkk.

Sambil guyonan khas orang sunda waktu itu dia nyeleneh bilang ke saya pengalamannya itu akan dia tulis dan akan diberi judul 300 METER MELIHAT ERUPSI MERAPI doakan saja mudah-mudahan ada kesempatannya dan saya bisa nulis cerita itu dengan judul yang sama di blog ini. Teng kiyu banget bro Jibriel semoga menjadi amal baik bagi kita.




Masih di malam yang sama kala itu saya masih sibuk dengan secangkir kopi, diluar dugaan saya kala itu dia sedang sibuk mengemas barang dan dimasukan ke ransel daypack 30L, dikira saya dia masih sibuk mengemas barang-barang sisa perjuangan dia merantau untuk menimba ilmu dan ternyata jreennggg jreenngggg !!

Jibriel : “yaelaahh musss masih belum habis tuh kopi kuy packing katanya mau ke merapi”

Musfik : “serius berangkat malam ini juga bro?”

Jibriel : “yoi soalnya besok malam sebelum balik Sumedang gw ada rapat MDC, supaya semuanya ke kejar bro, tapi pakai apa ya ke Boyolali nya? kalau malam susah kendaraan umum dari Tembalang ke Boyolali”

Sambil packing peralatan seadanya untuk tektokan naik gunung, pada saat itu kita berdua masing-masing daypackan yang isinya kita tetap mengutamakan safety prosedur dong ya hihi sombong banget dah tapi bukan sombong sih bro memang untuk kegiatan extreme luar ruangan kita harus sedia alat-alatnya ya minimal kalau mau naik gunung tektokan, teman-teman pembaca membawa P3K, tidak terlalu kebasahan ketika turun hujan blablablablaa teman-teman pembaca pasti tahu lah apa saja ya, tetapi kalau memang belum tahu tanyakan saja kepada pihak yang berwajib hehehe.

Setelah 2 jam menunggu di BC MDC akhirnya dapat juga inventaris kendaraan roda dua dari temannya, saya sebutin merk nya pake initial ya, kala itu kami berdua naik motor bebek vigea er whahaha. Setelah semua persiapan dirasa cukup dan pamitan ke semua penghuni BC MDC akhirnya kami berdua cuuuusss nnggeeeengggg ke Boyolali. Semarang kan suhu nya cukup panas ya beda dengan Boyolali yang lebih tinggi datarannya, setelah angin malam terasa semakin dingin menembus kulit hingga menusuk tulang belakang ahaayy lebay dehh hahaha biarin, di tengah perjalanan sebelum memasuki kota Boyolali kami terhipnotis oleh angkringan pinggir jalan raya khas jawa tengahan, kami berdua quality time dulu dong makan nasi kucing berdua so sweet banget deh andai saja pada saat itu yang bersama saya bukan laki-laki andai saja pada malam itu bersama sang kekasih mungkin akan saya putar lagu kemesraan ini janganlah cepat berlaluuu etdah kok jadi halusinasi ya hihihi maafkan aku. Singkat cerita kita berdua sampai di basecamp gunung merapi pada pukul 03.15 wib saya masih ingat betul dan kami langsung beristirahat untuk mempersiapkan tenaga supaya nanti pagi pas ngetrack nya badan fit.

Inilah saat yang ditunggu dari cerita perjalanan saya kali ini supaya lebih dapat suasananya, seduh kopi sambil mendengarkan lagu dari PAJARO SUNRISE rekomendasi banget deh buat para pejalan. Selamat membaca ya, enjoy with my experience.

Sambil melihat suasana sekitar, banyak pula aktivitas pendaki lain yang siap-siap juga untuk memulai pendakian. Pukul setengah 6 pagi kami telah selesai melakukan pemanasan kecil supaya otot-otot tidak tegang pas diajak jalan. Pukul 6 pagi kami sudah mulai menapaki si kulit hitam sebelum berpaling ke kulit cokelat. Sambil menikmati suhu pagi yang segar teman saya berkata ketika kita mau melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki usahakan 100 meter pertama jangan terburu-buru kasih ruang untuk otot-otot beradaptasi, saya juga tidak tahu itu teori dari mana mungkin teori dari seorang penyelam kali ya hahaha, saya langsung menerapkan teori tersebut dan memang enak juga ketika perjalanan sudah mulai berat otot kaki saya masih sama rasanya ketika langkah awal  perjalanan waktu tadi di pos simaksi pendakian thanks bro Jibriel teori nya gw terapkan di kehidupan pribadi dan sudah di bagikan juga ke orang-orang terdekat.




VIEW MERBABU, AGUSTUS 2017 ©JIBRIEL FIRMAN SOFYAN

Setelah 3 jam perjalanan kami sudah melewati shelter 1,2,3 dan sudah melewati jalur kartini yang dikenal dengan sejuknya rimbun pepohonan sampai bertemu langsung di pos 2 jalur pendakian. Pada saat itu di pos 2 kami beristirahat sejenak untuk meregenerasi kalori dan lemak yang sudah dibakar habis selama 3 jam perjalanan dan bersenda gurai bersama teman-teman pendaki lain asal Bekasi. 45 menit berlalu tenaga dirasa pulih kembali dan kami berdua melanjutkan perjalanan yang di rencanakan di pos 2 ini tujuan kita selanjutnya ke pos watu gajah istirahat sejenak disana sebelum langsung naik ke pasar bubrah merapi. Namun faktanya mimpi memang selalu lebih indah dari kenyataan mitos lebih kuat dari cerita aslinya.

Pada saat itu menjelang pukul 11 siang wib, suhu udara terasa dingin namun cahaya mentari terasa sangat menyengat dari biasanya tubuh mulai berat untuk melangkah saya sendiri sampai jatuh terpeleset ketika naik di jalur tanah kering yang penuh dengan pasir pada saat itu saya menginjak cadas atau batu yang tertutup pasir dengan sepersekian detik saya terpeleset bahu tangan kanan saya sampai luka hingga bekasnya masih ada sampai sekarang. Memang tidak parah sih cuman saya takut menambah rumit keadaan saya melakukan langkah atau teknik PPGD (pertolongan pertama gawat darurat) saya bersihkan dulu luka saya dan diobati lah luka itu sampai akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan.

BATAS AKHIR VEGETASI, AGUSTUS 2017 ©JIBRIEL FIRMAN SOFYAN

Nyatanya selalu terlihat lebih menarik lebih jauh lebih sulit dari biasanya. Gambar diatas diambil sebelum sampai ke pos watu gajah dan waktu sudah hampir mencapai pertengahan siang hari. Gambar diatas bukan halnya saya halusinasi memeluk seseorang ya hihihi hanya saja pada saat itu memang tenaga yang mulai terkuras oleh sengatan mentari, saya tidak tahu tiang pipa besi apa yang saya peluk ini yang jelas disana tertulis kode kode nomor sepertinya titik koordinat untuk memantau aktivitas gunung berapi atau apa saya kurang mengetahuinya, fakta dari gambar tersebut adalah tubuh saya sedang memerlukan rasa dingin yang bisa meringankan sedikitnya dari sengatan mentari yang begitu terik supaya tenaga saya tidak begitu terkuras.

Alhasil harapan saya memang benar, tiang pipa besi itu memang dingin dan bisa memulihkan sedikitnya tenaga saya. Barangsiapa yang memasang tiang tersebut saya ucapkan beribu kata terima kasih dan saya doakan semoga menjadi amal baik yang dicatat oleh malaikat amiinn. Berkat tiang tersebut saya bisa melanjutkan perjalanan saya ke pos watu gajah dan beristirahat disana dan kami berdua memutuskan untuk beristirahat di area pasar bubrah supaya manajemen perjalanannya bisa berjalan sesuai dengan yang direncanakan ketika malam hari di BC MDC.

PASAR BUBRAH MERAPI, AGUSTUS 2017 ©MUSFIK NAZMULOH

Menjelang adzan dhuhur kami berdua sampai di area camp pasar bubrah dan kami berencana beristirahat dengan durasi waktu yang lebih panjang dari sebelum-sebelumnya ketika istirahat di pos ke pos pendakian dengan niatan sambil menunggu waktu ibadah, sambil tidur barang setengah atau sampai 1 jam. Setelah selesai melakukan ibadah solat dhuhur saya masih duduk di atas sejadah tipis warna merah yang sengaja saya bawa saya berdoa dan sontak saja terlintas bayangan Almarhum Mbah Marijan yang pada saat meninggalnya saya tahu ceritanya dari masyarakat setempat ketika merapi sedang erupsi (waktu kejadiannya saya kurang tahu) beliau memasrahkan sisa hidupnya kepada Sang Ilahi.

Beliau bersujud sampai menghembuskan nafas terakhirnya bersama abu-abu sisa erupsi (untuk kebenarannya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak tertentu jikalau pernyataan saya ini salah) dan saya langsung tersungkur kembali bersujud sambil meneteskan air mata saya teringat akan sosok beliau, ketika saya terisak menangis sendu saya merasa tubuh kurus ini DIRANGKUL DAN DIPELUK OLEH MERAPI memang pada saat-saat sebelumnya saya ingin sekali bisa menapakan kaki saya di gunung berapi paling aktif di Indonesia ini. Saya bersyukur kepada Allah SWT karenanya saya digariskan dan diberi jodohnya untuk bisa naik ke gunung berapi ini walau hanya 12 jam lamanya, saya bersyukur.

PASAR BUBRAH MERAPI, AGUSTUS 2017 ©MUSFIK NAZMULOH

Sambil menghabiskan waktu istirahat kami berdua berniat ngopi-ngopi manja di pasar bubrah, diantara kami entah siapa yang teledor kami mencari cari kompor untuk memasak air dan terus mencari membuka isi ransel masing masing mencari kopi atau minuman mentah kemasan ternyata tidak ada entah tertinggal dimana. Pada saat itu memang tubuh diantara kami berdua sudah mulai lelah setelah 6 jam melakukan perjalanan yang cukup berat.

Pada waktu itu ada rombongan pendaki yang mau turun yang saya tahu mereka berasal dari Bandung kami berdua merasa mendapatkan angin segar dari syurga yaelaahh tong lebay amat dah hahaha mau tidak senang bagaimana coba bayangkan kita sedang merasa kesusahan di tempat orang lalu bertemu dengan saudara satu bahasa (sunda) bahagia banget serius tubuhpun merasa di setrum oleh ribuan voltage auto comeback hahaha saya menanyakan kepada salah satu pendaki tersebut,

Musfik : “kang barangkali punya air panas atau minuman kopi mentah yang belum diseduh kalau ada bolehlah kita beli, kami berdua dari Sumedang mau naik tektokan kebetulan sumber energy kita tertinggal dibawah”

Pendaki bandung : “yaelaah bertemu saudara jauh disini, kalau kopi tidak ada kang, tapi ini ada coklat yang belum diseduh kalau akang mau ambil saja gausah dibeli”

Dengan berbasa-basi ala pendaki saya ucapkan terima kasih kepada pendaki tersebut. Kalau pembaca ada yang merasa memberikan saya cokelat seduh tersebut di pasar bubrah merapi bulan agustus 2017 silam saya ucapkan terima kasih, semoga segala amal baiknya dicatat oleh malaikat. Amiinn

Pukul 13.25 wib kami berdua melanjutkan perjalanan dari pasar bubrah ke puncak dengan perbekalan terakhir 1 (satu) sachet cokelat seduh dan kami masukan ke dalam botol minum untuk perbekalan kami di jalan menuju puncak. Ditengah perjalanan ketika mulai menapaki bebatuan yang diukir cantik oleh sisa-sisa erupsi ketika teman saya sudah jauh naik keatas saya terdiam sejenak pada waktu itu mental saya drop memang bisa saja factor dari kelelahan terus medan yang miringnya diperkirakan sampai 80% kemiringan ditambah jalur yang ditapaki harus melewati batu batu besar yang tajam dan terasa hangat.

Ssampai ada beberapa batu yang sedikit terkena cahaya matahari yang jauh dari area jalur pendakian terlihat kemerah-merahan entah memang warna aslinya seperti itu entah memang panas aahhhhh entahlah teman saya diatas berteriak-teriak memberikan saya semangat katanya sayang kalau sampai saya menyerah ayo semangat sedikit lagi, begitulah teriakan-teriakan yang tidak akan saya lupakan, dan yang saya tahu juga untuk pengalaman dia yang kedua kali naik merapi baru kali ini ketika naik tektok bersama saya sampai ke puncak, memang yang pertama kalinya harus terhenti ketika pada saat itu memang kebetulan pas dia di pasar bubrah puncak merapi erupsi. Sampai akhirnya kami sampai di puncak pada pukul 15.10 wib ketika sampai diatas saya langsung sujud syukur mengucap kepada Sang Kuasa atas nikmat yang telah diberikan kepada saya.

PUNCAK MERAPI, AGUSTUS 2017 ©JIBRIEL FIRMAN SOFYAN

Sambil berswa foto tibalah waktu adzan ashar dan saya melakukan solat ashar di puncak merapi, bukannya saya bermaksud riya atau sombong tetapi tanpa saya ketahui moment tersebut diabadikan oleh teman saya, kata teman saya memang untuk mengabadikan satu moment terkadang kita harus lebay supaya kita tidak mudah untuk melupakannya etdah tong so iye lu hahaha.

PUNCAK MERAPI, AGUSTUS 2017 ©JIBRIEL FIRMAN SOFYAN

Sampai akhirnya kami berdua melakukan perjalanan turun kembali ke basecamp pendakian. Dengan rasa penuh syukur akhirnya saya bisa menginjakan kaki saya di gunung berapi paling aktif di Indonesia ini. Badan yang dirasa sangat lelah merasa terbayarkan kontan saat itu juga.

GAMBAR DIAMBIL DI BC PENDAKIAN MERAPI,

AGUSTUS 2017 ©MUSFIK NAZMULOH

Ketika saya akan melakukan kegiatan luar ruangan terutama naik gunung atau berkegiatan alam saya selalu mengupayakan membawa alat tulis yang fungsinya akan muncul dengan tidak sengaja pada waktu-waktu tertentu. Banyak nilai tambah nya ketika saya melakukan perjalanan kali ini, mulai dari melakukan teknik PPGD, merumuskan manajemen perjalanan dengan baik meskipun kita ketahui juga dari awal untuk naik gunung merapi dengan tektokan tanpa camp saya bisa melakukannya dengan perjalanan yang baik meskipun selau ada saja kejadian-kejadian yang diluar dugaan, tetapi setidaknya kita sudah memikirkan itu bro, dan akhirnya kami bisa kembali ke BC MDC Tembalang (basecamp marine diving club) dengan tepat waktu dan akhirnya semua perencanaan diawal berjalan dengan sesuai harapan Alhamdulillaah.

Pada dasarnya saya merasa bangga kepada teman saya yang satu ini, memang untuk perihal waktu dia selalu belajar menempatkan dirinya di posisi yang seharusnya dia berada.

Saya ucapkan selamat ya bro atas kelulusan dan gelar nya, semoga ilmu-ilmu nya bermanfaat untuk masa yang akan datang. Oh iya kalau berkenan nanti bisa dong ya lu gw jadikan narasumber untuk menuliskan pengalaman lu ketika naik merapi yang pertama kali yang tulisannya mau diberi judul 300 METER MELIHAT ERUPSI MERAPI hihihihi keren dah lu masih diberi umur wkwkwkwkwkw bercanda bro. Teng kiyu banget bisa mengantar gw naik merapi di sela-sela kesibukan, thanks brooo. Terima kasih juga saya ucapkan untuk sepasang pendaki pelajar asal Klaten yang sudah sudi membantu kami dalam mengabadikan moment yang indah ini. TERIMA KASIH BANYAK.

Gunung merapi

PUNCAK MERAPI AGUSTUS 2017, ©PENDAKI PELAJAR ASAL KLATEN

Di tulis oleh

Musfik Nazmuloh

Kang Mus Kolor

Atsidi Tonatiuh

JG-0244 Navajo

In Frame

Jibriel Firman Sofyan

20-02-2020




Manusia Biasa yang sedang berusaha menemukan jalan pulang.