Oruxmap step by step part 4

Oruxmap step by step part 4

Menambahkan tracklog GPX atau KML

File log hasil dari rekaman perangkat gps (handheld GPS) seperti garmin,magellan dsb, dan dari rekaman berbagai applikasi gps bisa anda tambahkan pada peta offline anda, tentunya file tersebut harus ada terlebih dahulu.
Lanjut….

Bahan-bahan yg diperlukan :
1. hp android yang sudah diinstall dan disetting app oruxmaps plus peta OFFLINE di oruxmaps.
2. file log KML atau GPX rute bisa didownload disini : link = Jungle ghost
atau cari di tempat lain atau bikin pakek arcgis/qgis/google earth dll
dalam tutorial ini gw pake file kerinci dari link Jungle ghost diatas.

Cara download :
1. buka link : Jungle ghost
2. cari track yg diinginkan dan tap/klik tanda ‘+’ lalu tap/klik tulisan Lihat di google maps

Lihat di google maps

Read more

Sejarah tugu Abel Gn.Marapi

Sejarah tugu Abel Gn.Marapi

Tugu abel Gn.Marapi Sumatra Barat.

Para pendaki yang pernah mampir dipuncak Gn.Marapi 2891 sumbar tentu pernah bertemu dan beristirahat disekitaran tugu Abel, tapi tahukah anda sejarah tugu abel tersebut ? kapan dan untuk apa tugu itu didirikan? google image link : Tugu abel.
pasti banyak yang berkata tugu itu bla..bla…bla…. dan banyak lagi cerita tentang tugu itu yang tidak benar, baik cerita mulut ke mulut atau tulisan yang berkisah seperti filem india diinternet.

Ok langsung saja kesaksian dari orang yang tau persis bagai mana tugu itu didirikan serta kisah sebelum pendirian nya.

Abel, atau lengkapnya Abel Tasman.

Wafat di Gunung Marapi tepatnya di Pucak Merpati pada tanggal 5 Juli 1992 Lebih kurang pukul 09.15 Wib Ketika sebelum wafat, mentari pagi sangat cerah dan pemandangan lepas terbuka, Saat itu para pendaki mulai ramai menuju puncak merpati.

Begitu juga dengan Abel dan kawan-kawan dari sinilah awal petaka Marapi berduka. (ini kesaksian sahabat, dan dia adalah tetangga dekat rumah yang saat itu juga mendaki Gunung Marapi, yakni Rum, Pak Us, dan Erry incek).

-Ketika lagi asyik mengabadikan foto tiba2 Marapi meletus. Dimulai dengan batuk nya yang keras, Awan panas bercampur debu serta material berhamburan dengan cepatnya, Orang-orang yang sedang berada di Puncak merpati Kalampasiangan (Panik) berlari menuruni puncak Merpati.

Sahabat saya Erri Incek yang persis sekali melihat batu seukuran bola kaki menerpa samping kepala Abel , Sementara Erry incek lengan tangan kanannya kena batu panas seukuran buah salak/rambutan, Dalam keadaan panik sedemikian rupa, Pak Jon (pendaki tuo senior) sempat mengabadikan Letusan Marapi sebanyak 2 x dalam bentuk foto.

Keadaan setelah itu benar2 kacau hujan abu belerang menyelimuti mereka saat itu pendakian di Marapi cukup ramai maklum, saat libur sekolah. Adapun setelah Marapi meletus, kondisi kawasan dibawahnya mulai gelap jalan raya koto Baru macet total.

Kembali ke Abel, beliau langsung jatuh ditempat dan mengenai tewas / tidak saat itu belum bisa dipastikan. Saat itu beliau tidak bisa dievakuasi karena situasi kondisi sangat tidak memungkinkan.

Sementara itu ada 2 orang pendaki asal Amerika bersama 2 orang guide yang ketika letusan itu terjadi berada dekat kawah. Pendaki Amerika ini mengalami luka bakar serius serta patah tulang kaki.

Melihat letusan gunung Marapi yang lumayan hebat hingga tedengar sampai ke bawah dan gunung Singgalang, para pendaki di gunung Singgalang yang ada saat itu merespon kejadian tersebut dengan segera mulai turun, Sebagian mereka banting stir menuju Marapi, Mereka ini kebanyakkan anggota Sekber di sumbar tanpa komando mereka mulai membantu dalam hal evakuasi para korban.

Setelah para pendaki Marapi berhasil turun semua, Mereka dikumpulkan di Polsek Koto baru guna pertolongan medis serta wawancara. Disimpulkan hanya 1 korban yang tertinggal yakni Abel. Mengenai beliau sudah tewas atau belum saat itu belum bisa dipastikan.

Barulah Hari kedua Tim Sar beserta relawan berhasil mengevakuasi korban. Mereka berpacu dengan waktu untuk bisa meraih jasad Abel dari situ lah korban bisa dinyatakan tewas. Menurut visum dokter korban tewas ditempat pada hari kejadian, akibat hantaman benda keras di kepalanya.

Jadi ini cerita singkatnya, dan masih segar dalam memory saya sampai saat ini. Memang saya tdk ikut mendaki ketika itu, Rencananya akan mendaki ke Marapi itu tgl 12 Julinya.

Sebelum kejadian, malam minggunya saya sempat mengantar teman2 saya itu ke koto baru (pintu pendakian) menaiki motor. Setelah itu saya dan teman pulang ke Padang sedang berita meletusnya Marapi saya dapatkan hari Senin. Maklumlah saat itu internet belum ada hanya jaringan telpon wartel yang ada.

Lanjut tentang Abel……..

Adapun pemasangan PRASASTINYA sudah direncanakan akhir tahun 1993, Alhamdulillah realisasinya jadi dilaksanakan pada hari Selasa Tanggal 5 Juli 1994. diperkirakan ada sekitar seratus lebih pendaki yang ikut andil dalam pemasangan Tugu Abel.

Kebanyakan pendaki yang ikut andil dalam pemasangan Tugu itu semuanya berasal dari Padang,

Berikut kelompok2 PA yang ikut pemasangan Tugu Abel :

1- Jipala, sebagai yang punya hajat, karena Abel termasuk anggotanya.

2- KPA RAwa Rimba.

3- KPA Alpen

4- KPA Kalilawa

5- KPA Hijau.

6- KPA Kinabalu

7- Sispala Cougar SMA 4 PAdang.

8- Kelompok2 kecil lain.

Pasti kebanyakan orang khususnya pendaki era 2000-an mengira bahwa Abel tewas di posisi tugu sekarang….??

Baiklah, itu jawaban yang Salah, Adapun posisi Tugu ini ditancapkan adalah karena mengingat dan menimbang posisi Top Merpati yang sulit untuk digali, Bila di Gali akan bisa mengakibatkan tanah dan bebatuan longsor dan itu jelas sekali sangat membahayakan posisi pendaki disekitar Top Merpati.

Lalu dibuat kesepakatan bahwa tugu Abel di pasang di posisi yang sekarang ini, dengan sedikit di serongkan menghadap ke Top Merpati. Yang menandakan bahwa Abel “sedang melihat” ke Top Merpati yang berdiri gagah, sebelum ajal menjemput dan sekaligus tugu ini sebagai penanda jalur untuk naik/turun dari dan kecadas.

Kalau ,melihat face nya Abel (almh) mirip dengan Pak Ateng yang sangat aktif dikegiatan SAR Padang. Abel adalah alumni SMA 6 Padang Beliau dimakamkan didaerah gunung Pangilun Banyak para pendaki menghadiri pemakamannya.

Adapun dana dan biaya operasional yang didapatkan berasal dari uang menang lomba lintas alam yang diadakan oleh KPA Rawa Rimba yang bermarkas di Simpang Haru. dan ada juga uang yang berasal dari iuran para pendaki yang ikut simpatisan dalam hajatan acara tersebut.

Saat itu KPA Jipala sebagai Juara Ke Dua menyumbangkan seluruh uang hasil lomba tersebut untuk misi pemasangan Tugu tersebut. Untuk diketahui Jipala saat itu kekurangan orang untuk lomba lintas Alam, maka dimintalah anak Sispala Cougar SMA 4 Padang untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut untuk turun atas nama Jipala. Tanpa ba-bi-bu, sispla Cougar menyetujuinya.

Demikian sekilas cerita memory tentang Abel (alm).

Sumber : Firdaus Tan Juang

https://www.facebook.com/firdaus.tanjung1
Demikian lah kisah Tentang Tugu Abel yang sekarang menjadi patokan panduan naik dan turun para pendaki dari dan menuju kawah marapi.

UPDATE 14 Agustus 2016

Point of View : Saksi mata
Herwin Sukhavira (Wing hing ng)

https://web.facebook.com/winghing.ng

Berikut adalah penuturan Herwin sukhavira.

True story letusan merapi 5 juli 1992.

Sebenarnya ini pengalaman pahit yang kualami selama perjalanan petualanganku, karena alam memang tidak bisa diduga sebentar ramah sebentar ganas.

Membuat kita sebagai manusia harus bisa belajar, apa yang patut kamu sombongkan dengan mengatakan bisa menaklukkan banyak puncak gunung, karena kita hanyalah segelintir debu di alam semesta ini.

Ini pengalaman yang ingin kusimpan rapat – rapat sebagai masa lalu, tapi karena banyak yang penasaran cerita sebenarnya, akan saya ceritakan kejadian yang sebenarnya.

Semula berawal dengan pendakian merapi turun simabua,
Kami berkumpul di belakang olo padang tempat bus berangkat.
Kami berjumlah 10 orang yang merupakan gabungan anak pencinta alam yang mangkal tiap malam minggu berkumpul disini.

Terakhir bus sampai koto baru jam 11 malam dan kami makan di rumah makan citra disana.
Setelah makan dan istirahat sejenak baru kami memulai mendaki dan bertemu dengan kelompok Rizal anak pattimura padang, berjumlah 5 orang yang didalamnya termasuk Abel tasman dan Sulastri
mereka bergabung dengan kelompok kami untuk ikut turun simabua, jadi kami semua berjumlah 15 orang jadinya.

Saya sempat mengobrol dengan Abel tasman yang mengatakan bahwa dia terakhir naik merapi dan mau ikut tes masuk polisi karena dia baru tamat sma waktu itu.  Dicadas kami sampai sekitar pagi hari dan bertemu dengan rombongan bule 4 orang yang salah satunya dosen bahasa bung hatta. kami masih sempat mengambil photo bersama mereka. Lalu kami mulai mendaki cadas dan semuanya cuaca sangat cerah.

Sampai diatas kami agak terpecah rombongan karena saya, da John, Martha, Yanti dan Jon piter duluan turun dari puncak merpati mau menuju simabua,  Abel tasman dan Sulastri posisinya sudah mendekati puncak merpati dan yang lainnya masih dibelakang mereka menuju puncak merpati.

Tanpa di sangka begitu kami berlima mendekati kawah aktif sekitar 5 meter dan mau turun ke arah simabua sekitar jam 9 pagi lewat sedikit, terdengar suara gemuruh dalam kawah yang keras dan merapi langsung meletus mengeluarkan asap hitam yang membumbung tinggi disertai batu-batu panas terlontar dari dalam kawahnya.

Kami semua terkejut tidak tahu harus berkata apa yang saya rasakan seperti kiamat saja rasanya saat itu,  sampai terdengar bunyi batu jatuh kecadas baru kami tersadar dan lari kembali menuju puncak merpati.

Di puncak merpati ini kami berlima berlindung dengan carrier di kepala, dan di bawah kami sekitar 10 – 15 meter dari puncak merpati Abel tasman dan Sulastri berlindung, dan yang lain berlindung tidak begitu jauh dari mereka,
setelah merapi tidak mengeluarkan batu lagi dan asapnya melebar, langsung kami berlima lari turun dari puncak merpati dan terdengar suara Sulastri minta tolong,  da tolong awak kanai da katanya, maka waktu itu di tolong sama da Jhon.

Dan kami turun agak menjauhi puncak merpati dan Sulastri bercerita pada kami bahwa dia sempat terkena pecahan batu di bahunya dia juga sempat pingsan sebentar sekitar beberapa detik dan waktu dia sadar dia sempat melihat Abel tasman sudah terkapar di cadas.

Akhirnya saya sama Us yang agak pincang kakinya akibat terkilir naik lagi ke puncak merpati untuk melihat Abel tasman,

Ternyata Abel tasman sudah meninggal di tempat karena batu tepat mengenai kepalanya sebagian dan giginya juga hilang saya lihat, dan anehnya kejadian baru sebentar sudah ada beberapa ekor lalat hijau mengelilingi darah di kepalanya. Karena tidak tahan melihat itu saya mengambil kantung asoy (kresek:red) untuk menutupi kepalanya dan kamipun terpaksa meninggalkan Abel tasman untuk membantu teman yang terluka.

Kalau masih hidup waktu itu kami akan berusaha untuk membantunya, tapi Tuhan berkata lain.

Teman yang terluka ditambah lagi bule yang kami temui dicadas satu orang patah kaki terpaksa dibidai dan tangannya berdarah terluka, dan cewek bule tangannya terkelupas kena asap panas karena mereka terlalu dekat dengan kawah waktu letusan itu, jadi kami yang masih sehat membantu mereka menuruni cadas.

Lalu kami membagi tenaga 2 orang disuruh dulu turun melapor kebawah secepatnya untuk minta bantuan, dan sisanya berusaha turun sambil tolong menolong. Sampai di bawah cadas disitu kami bertemu dengan anak Suripala Bukittinggi,  yang sengaja naik keatas merapi untuk memberikan bantuan.

Sampai di bawah cadas sulastri telah kehilangan tenaganya dan terpaksa dibuat tandu dan di tambah bantuan anak Suripala kami membawanya turun ke bawah. Letusan merapi waktu itu cukup besar dan abunya sampai di Bukittinggi dan cuaca kelam waktu itu karena abunya.

Sesampai dibawah kami bermalam di polsek Kotobaru sambil menunggu teman dari padang untuk S.A.R Abel keesokan harinya.

Jadi Abel tasman tugunya dulu bukan di lapangan bola, tapi dekat puncak merpati sebelah kanan arah pendakian, dan waktu ditemukan sudah dalam keadaan meninggal di tempat.

Dan cerita mengenai Abel tasman menolong Sulastri waktu pingsan itu mungkin benar sehingga dia tidak melihat batu tepat mengenai kepalanya. Sehingga sekarang saya dengar ada cewek setiap tahun mendatangi tugunya meletakkan bunga kemungkinan itu Sulastri anak pondok Carolina padang.

Sebuah kejadian yang pahit ini telah merubah seluruh pandangan saya tentang hidup ini dan ini pula yang membuat saya menjadi pendaki solo, karena dalam mendaki ini membawa teman, harus punya tanggung jawab yang berat. bukan seperti sekarang ini banyak pendaki yang egois suka meninggalkan teman, karena supaya dia dianggap cepat dan kuat.

Inilah cerita sebenarnya dari letusan merapi 5 juli 1992 yang terjadi,
semoga ini menjadi pelajaran buat saya dan teman semua bahwa persiapan yang matangpun akan hancur berantakan kalau alam sudah berkehendak lain.
Sesudah kejadian ini Martha, Yanti dan Jon pieter tidak mau naik gunung lagi, sedangkan yang lain saya tidak tahu kabarnya karena kami lama tidak bertemu.

UPDATE KOREKSI :

Tanggal evakuasi jenazah abel 6 juli 1992 dan Wanita yang selalu mendatangi Tugu Abel.

by: Yandri JG.

Laa Tahzan, Sinabung

Laa Tahzan, Sinabung

Selalu saja dimulai dengan ide bandel. Berawal dari masing-masing jiwa yang terpanggil oleh jeritan hati para pengungsi gunung sinabung Tanah Karo. Ya.. lagi lagi gunung kebanggaan kami itu erupsi. Lama sudah tak bersilaturahmi dengan hutan, cadas, puncak dan menikmati betapa anggun danau lau kawarnya. Keindahan itu sekarang telah tertutupi oleh kabut tebal dan abu vulkanik. Hijaunya telah putih. Bagaimana mungkin kami “JUNGLE GHOST” yang berada di wilayah Medan hanya bisa diam melihat semua keadaan ini, kami ingin melakukan sesuatu meskipun itu hal kecil.

Pada tanggal 20 Oktober 2014 malam, saya mulai menebar racun ke pikiran anak-anak jungle ghost medan untuk turut serta menjadi bagian dari manusia yang tidak sekedar mendaki gunung saja, melainkan berguna untuk orang lain. Yaah.. orang baik itu banyak, namun orang yang peduli itu sangat sedikit. Jangan sampai kita menjadi mahasiswa yang suka mendaki gunung tapi jiwa sosial kita di pertanyakan.. huh.. jangan-jangan pendaki selfie? Hahaha..

Dimulai dengan saya memposting sebuah pertanyaan yang mengajak di sosmed, komentar para Howgher pun sangat antusias yang intinya “JADIKAN”. Alhamdulillah yah hehe
Senang bukan kepalang selama 5 menit lalu mengerutkan kening dan mikir keras, kapan waktu yang tepat untuk kopdar dan membicarakan hal ini sementara dalam suasana ujian. Dari Universitas dan jurusan yang berbeda-beda sangat susah menyatukan waktunya. Mencoba beberapa kali untuk menetapkan hari untuk ngumpul tapi hasilnya tetap nihil, sempat kecewa. Malam harinya saya post ke grup lagi dengan pertanyaan singkat yang membutukan jawaban antara YA atau TIDAK “penggalangan dana ini kita jadikan atau tidak?”. Komentar langsung banjir dengan jawaban “ya jadikan”. Bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan ini kalau semuanya tidak bergerak. Hari untuk kopdar dan penggalangan dana pun telah di tentukan namun gak ada hasilnya, Lagi-lagi di undur dan nggak jelas (ditambah dengan beberapa orang-orang sekitar yang bersikap sok peduli tapi nggak mau ngapa-ngapain) Hampir pesimis namun niat untuk berbagi masih belum mati.

Malas menunggu, saya mulai menebar racun itu lagi kepada teman-teman studio Arsitektur USU untuk mau berpartisipasi dengan kegiatan ini. Alhamdulillah.. antusias mereka sangat luar biasa walaupun di tengah deadline yang membara hahaha. Dalam 1 hari itupun, dana terkumpul sebesar Rp. 520.000, terimakasih banyak hehehhe

Minggu, 26 oktober 2014
Setelah sibuk mengatur waktu akhirnya pada hari minggu kami melakukan kopdar di Kampus UMSU dan langsung turun ke jalan setelah zuhur (Simpang Glugur – Medan) untuk melakukan aksi penggalangan dana. Panas mataharinya bukan main Howghher !!! hehhe dan inilah beberapa foto para Howghher yang luar biasa saat beraksi di jalanan Medan.

Alhamdulillah.. berkat semangat dan kerjasama, dana pun terkumpul sebesar Rp. 817.900, aksi untuk hari minggu selesai. Kami kembali lagi ke UMSU membicarakan kegiatan selanjutnya. Syukur tak terhingga 2 organisasi yaitu HMJ dan IMM FAPERTA UMSU mau bekerjasama dengan Jungle Ghost. Hari selanjutnya penggalangan dana tetap berlanjut dengan lokasi penggalangan dana di wilayah kampus masing-masing.
Akhirnya, setelah beberapa hari bekerja keras mencari dana, terkumpullah Rp. 2.383.400,-

Kamis, 30 Oktober 2014

Pada hari ini, kami sudah tidak lagi melakukan penggalangan dana melainkan fokus untuk memikirkan kegiatan yang akan di lakukan di posko pengungsian nantinya. Target adalah Anak-anak pengungsi gunung sinabung.
Pada malam harinya pukul 20.00 – 22.00 wib, kami melakukan kopdar terakhir di taman birorektor pintu 2 USU. Beberapa diantara kami melakukan komunikasi dengan beberapa kordinator posko yang mengatakan bahwa anak-anak disana sangat membutuhkan hiburan, mainan, snack dll maka kami memutuskan untuk melakukan trauma healing serta membawakan snack untuk mereka.
Selain itu, kabar gembira juga bahwa sebelum keberangkatan menuju posko nantinya akan ada penyematan slayer oleh saya atas izin dari om Beben Lesmana selaku ketua/sirah suku Jungle Ghost.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pagi pukul 10.00 wib, dana yang telah terkumpul kami belanjakan untuk membeli snack (susu kotak dan snack lainnya) di salah satu grosir Setiabudi Medan. Teman-teman yang lain sedang mengikuti ujian dan sebagian ada yang sedang kuliah. Oke fix !!! saya dan 1 orang teman yang belanja. Capek keliling-keling cari grosir yang pas, akhirnya ketemu juga. Semua barang yang dibutuhkan sudah didepan mata sekarang tinggal memikirkan cara membawa barang sebanyak ini sampai ke kost. Naik angkot (angkutan Umum) nggak mungkin, terpaksa cari becak hahaha
Akhirnya, setelah dicari.. becak yang mau angkut barang ini pun datang dan kaget lalu ngomong dengan khas bicaranya orang medan..

“bah !!! banyak kali belanjaan kelen dek !!!! cemanalah bisa ku bawak itu ditambah kelen berdua lagi nanti yang masuk ke becakku !!!!

“Jadi cemanalah bang? Apa perlu kami carikan becak satu lagi?”

“ini untuk apa rupanya !!! kok banyak kali !!!” (bang becak)

“untuk sumbangan ke pengungsi sinabung bang”

“oohh !!! yodahlah.. biar ku bawakkan aja !!! ongkos 15 ribu !!! naeklah kelen dulu” (bang becak)

Setelah duduk sengsara didalam becak, semua barang belanjaan itupun di tumpuk habis dipangkuan kami dan di paksa muat semua kedalam becak hahhaha… tangan dan kaki kami ntah udah kayak mana bentuknya, tahan ini tahan itu agar barangnya nggak jatuh. Ditambah lagi becak ini jalannya kayak keong, lamanya minta ampun.. soalnya nggak sanggup angkut beban. Untung becaknya nggak ambruk hahah
Setelah beberapa lama di perjalanan dan memasuki gang kecil akhirnya sampailah di kost. Nggak tega juga cuma ngasih 15 ribu, kami tambahkan lagi jadi 30 ribu. Urusan selesai. Bye abang becak bahahahhahaha….
Packing snack dalam bentuk bingkisan pun di mulai. Masih kami berdua yang mengerjakannya. Pukul 16.00 wib, 1 orang teman datang lalu 2 orang lagi datang setelah magrib. Semuanya selesai pada pukul 23.00 Wib. Ini hasilnya

Sabtu, 1 November 2014

Pukul 15.00 Wib, semua anggota Jungle Ghost Medan serta sebagian teman-teman dari HMJ & IMM FAPERTA UMSU telah berkumpul di Taman Birorektor pintu 2 USU

Pukul 15.30 Wib, Jungle Ghost Medan melakukan penyematan slayer oleh saya sendiri ke 9 anggota Jungle Ghost yang telah ikut bekerja keras dalam kegiatan ini. Diantaranya:

Anggota Jungle Ghost yang berhalangan untuk hadir sejak awal kegiatan akan menyusul pada acara berikutnya. Yaitu:

Acara penyematan slayer pun berjalan sukses. Semoga, dengan adanya Id Card dan tersematnya slayer di leher kami akan menjadi pengikat tali persaudaraan, menjadi pemicu semangat untuk terus peduli terhadap sesama serta tetap mencintai dan menjaga alam. Tetaplah berkarya Howghher !!!

Pukul 17.00 wib, kami mulai berangkat menuju posko. Sebagian ada yang menggunakan kendaraan roda 2 dan sebagian lainnya ikut menjaga barang di mobil angkutan. Di tengah perjalanan, kami diguyur hujan deras dan malam telah datang. Kami berteduh untuk beberapa menit menunggu hujan reda. Pakaian basah, badan menggigil dan lapaaaaaarr… hehehehe

Hujan tak kunjung berhenti, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kalau udah basah, yaaa mandi aja terusss…. Perut keroncongan membuat kami berhenti lagi dan membeli roti untuk menambal perut kemudian jalan lagi. Akhirnya pada pukul 20.45 wib kami tiba di Posko pertama yaitu KWK Berastagi. Kami makan malam bersama, cerita-cerita, dll kemudian beristirahat.

Minggu, 2 November 2014

Keesokan harinya, kami melakukan kegiatan bersih-bersih di posko tersebut. Pukul 09.00 wib, semua anak-anak kami kumpulkan untuk melakukan trauma healing dengan membuat games, bernyanyi dll.

Ditengah-tengah games, kami dikejutkan dengan bubarnya semua anak-anak karena diluar sedang hujan abu. Mereka mencari masker dan mengangkat semua kain yang tadinya telah dijemur.Ternyata baru saja sinabung erupsi lagi. Setelah semuanya selesai, kami membagikan snacknya kepada masing-masing anak.

Pukul 11.00, acara di posko KWK Berastagi telah usai dan kami pun pamit, setelah melakukan makan siang bersama, Pada pukul 14.00 wib kami melanjutkan perjalanan menuju posko desa Gurukinayan Kecamatan Payung, radius 5 km dari kawah sinabung dan termasuk kedalam zona merah.
Sepanjang perjalanan abu terus turun dan cuaca tidak terlalu panas. Sejenak, perjalanan kami terhenti. Gunung sinabung telah terpampang jelas di depan mata beberapa foto berhasil kami abadikan. Kemarahan alam memang tidak bisa di prediksi, redamlah amarahmu SINABUNG.

Pukul 14.45 wib, kami tiba di posko desa gurukinayan. Kami disambut hangat oleh para pengungsi namun tak satupun anak-anak mereka yang terlihat, ternyata sedang bermain di sungai.

Lama kami berbincang-bincang dengan para pengungsinya, ketika kami tanya mengapa harus mengungsi disini padahal daerah ini termasuk zona merah letusan gunung sinabung, jawaban mereka adalah “Kami berat untuk meninggalkan tempat ini, sawah dan ladang kami ada di lereng gunung, nak”. Kami hanya bisa diam mendengar jawaban itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, anak-anak mereka masih betah bermain disungai. Barang yang telah kami bawa pun kami titipkan kepada orang tua di posko itu.

Pukul 16.15 wib, kami pamit untuk pulang dan foto bersama dengan mereka. Rasa lega pun menyelimuti perasaan kami. Akhirnya, niat untuk berbagi tuntas juga. Karena kami melakukan semuanya bukan sekedar memegang kotak penggalangan dana lalu selfi atau foto kemudian sebar di sosmed dan mengatakan KAMI ADALAH PENDAKI GUNUNG DAN KAMI ADALAH RELAWAN. bukan !!! kami memiliki tatanan yang teratur, kami bertanggung jawab atas Id Card yang telah kami kantongi dan slayer kehormatan yang telah tersemat di leher kami. Terimakasih kerja kerasnya kawan-kawan, tetap sehat dan tetap jaga persaudaraan.

Pukul 18.45, kami telah sampai di Medan dengan selamat.