JG Legenda Native: Gunung Pawitra

JG Legenda Native: Gunung Pawitra

 

pawitra2_hyk1gwGunung penanggungan merupakan salah satu gunung suci, dalam kitab negarakertagama disebut dengan pawitra. Bentuk peninggalan yang berupa struktur bangunan bertingkat yang banyak dijumpai di wilayah gunung penanggungan adalah punden berundak. Punden-punden tersebut dibangun tersebar di lereng barat puncak Penanggungan, di lembah antara puncak Penanggungan dan bukit Bekel, di bukit Bekel dan bukit Gajah Mungkur. Punden berundak tersebut umumnya berorientasi kearah puncak Penanggungan atau puncak bukit lainnya.

Hal ini membuktikan bahwa anggapan tentang daerah suci tidaklah terpusat pada puncak penanggungan saja, tetapi seluruh gunung itu dan lingkungannya pun dianggap suci hingga punden-punden berundak sembarang didirikan di berbagai tempat dan selalu berada dilereng atau tempat-tempat yang mendekati puncak Penanggungan atau puncak-puncak bukit lainnya (Agus Aris, 1990 : 75).

Ditinjau dari bentuknya, bangunan berteras di situs gunung Penanggungan tampak memiliki unsur-unsur bangunan prasejarah dari tradisi megalitikum yang melatar belakangi pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Jika ditinjau dari pahatan candrasengkala atau angka tahun dalam tarikh saka pada beberapa bangunan dan juga ditinjau dari ragam hias dan relief cerita yang terdapat pada sebagaian besar bangunan dapat dipastikan bahwa peninggalan purbakala di situs tersebut berasal dari masa akhir kerajaan majapahit (sekitar abad 15 M).

Gunung Penanggungan dengan ketinggian (1.659 mdpl) dahulunya bernama Gunung Pawitra yang artinya kabut, karena puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut. Gunung Penanggungan dikelilingi oleh empat gunung di sekitarnya, yaitu Gn. Gajah Mungkur (1.084 m), Gn. Bekel (1.240 m), Gn.Sarahklopo (1.235 m), dan Gn. Kemuncup (1.238 m).

Gunung Penanggungan terletak di sebelah utara Gunung Arjuna (3339 m) dan Gunung Welirang (3156m). Gunung itu dapat dicapai dengan kendaraan bermotor dari Surabaya atau Malang menuju ke Pandaan, lalu ke Trawas dan terakhir aspal di Jolotundo. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang relatif mudah. Disarankan membawa pemandu yang mengetahui lokasi peninggalannya.

Salah satu bagian kitab Jawa Kuna Tantu – Panggelaran yang digubah sekitar paruh pertama abad ke-16, menguraikan perihal mitologi gunung itu. Dikisahkan bahwa semula Jawadwipa selalu bergoncang goncang, terombang- ambing oleh ombak Samudra India dan Laut Jawa.

Para dewa di kahyangan telah memutuskan bahwa Tanah Jawa itu cukup baik untuk perkembangan peradaban manusia selanjutnya, oleh karena itu harus dihentikan goncangannya. Mereka lalu beramai-ramai memindahkan Gunung Mahameru (pusat alam semesta) yang semula tertancap di Jambhudwipa (India) ke Jawadwipa dengan cara menggotongnya bersama-sama, terbang di angkasa.

Selama perjalanan, bagian-bagian lereng Gunung Mahameru berguguran, maka terciptalah rangkaian gunung-gunung dari Jawa bagian barat hingga Jawa Timur. Tubuh Mahameru yang berat jatuh berdebum menjadi Gunung Sumeru atau Semeru sekarang, gunung tertinggi di tanah Jawa.

Sedangkan puncaknya dihempaskan oleh para dewa jatuh di daerah selatan Mojokerto, menjelma menjadi Gunung Penanggungan sekarang, atau gunung berkabut Pawitra yang sebenarnya bagian puncak Mahameru.

Tak mengherankan kiranya apabila Gunung Pawitra telah dimuliakan sejak waktu yang lama. Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan peninggalan arkeologi yang ditemukan di lerengnya, diketahui Penanggungan disakralkan sejak abad 10 M. Inkripsi tertua yang ditemukan adalah prasasti suci yang bertanggal 18 September 929 M. Prasasti itu dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok yang memerintahkan agar Desa Cunggrang dijadikan daerah bebas pajak (sima), penghasilan desa itu dipersembahkan bagi pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasrama ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Berdasarkan berita prasasti tersebut dapat ditafsirkan, pada masa itu telah terdapat bangunan suci (prasada) dan asrama bagi para pertapa di Pawitra.

Adalah pemandian kuna (patirthan) Jalatunda yang terdapat di lereng baratnya. Pemandian itu dibangun pada tahun 899 – 977 M dan masih mengalirkan air hingga sekarang. Airnya dianggap amerta (air keabadian) karena ke luar langsung dari tubuh Mahameru, gunung pusat alam yang di puncaknya terdapat swarloka, persemayaman dewa – dewa. Diduga, dahulu pernah bertakhta arca Wisnu sebagai dewa kesejahteraan manusia di bagian tengah pemandian, sekarang telah raib entah ke mana.

Air Jalatunda juga dipercaya oleh penduduk sekitar Mojokerto, Surabaya, Malang, Pasuruan sebagai air bertuah. Seseorang yang minum dan mandi di pancuran airnya (jaladwara) dapat menenteramkan pikirannya yang kacau, dan juga dipercaya dapat membuat awet muda. Ketika AIRLANGGA muda mengungsi dari Kerajaan Dharmawangsa Teguh yang hancur akibat serangan dahsyat WURAWARI (1016 M), ia lalu menyingkir ke Wanagiri, diiringi sahabat setianya HAYAM WURUK (1350 -1389 M), raja Majapahit yang suka jalan-jalan itu pun pernah mampir di lereng timur Pawitra untuk menikmati keindahan. Disebutkan dalam Kakawin Nagarakrtagama pupuh 58 : 1, sang raja singgah di Cunggrang, asrama para pertapa yang terletak di tepi jurang yang curam. Dari tempat itu pemandangan ke arah Pawitra sangat menawan.

Peninggalan sejumlah besar monumen dan artefak dari masa silam (abad 10 – 16 M) di lereng Penanggungan itu dilaporkan oleh arkeolog Belanda WF. STUTTERHEIM (1925). Eksplorasi awal itu hanya mengungkapkan kekayaan peninggalan kuna di kawasan tersebut. VR. VAN ROMONDT, insinyur yang arkeolog, mengadakan penelisikan secara menyeluruh di situs Gunung Penanggungan. Hasilnya sungguh menakjubkan!

Di Penanggungan ditemukan tidak kurang dari 80 kepurbakalaan. Terdapat sekitar 50 monumen berupa punden berundak-undak dengan tiga altar persajian di teras teratasnya. Dinding punden-punden berundak adayang dihias dengan relief centa Sudhamala (kisah ruwat Dewi Durga), Arjunawiwaha (perkawinan Arjuna dengan Bidadari), Panji (kisah roman antara putra mahkota Janggala dan putri Kediri), Ramayana, dan kisah-kisah hewan.

Kepurbakalaan lainnya berupa gua-gua pertapaan, deretan anak tangga batu mendaki bukit, area-area, gentong-gentong batu, altar persajian tunggal, batu dihias relief, prasasti, ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk.

Berdasarkan tafsiran dari berbagai bentuk data yang tersedia, baik berupa monumen, area-area, prasasti, uraian kitab kuna Arjunawiwaha, Nagara krtagama, Arjunawijaya, Tantu Panggelaran, dan lainnya lagi, dapat diketahui dalam era Hindu-Buddha di Jawa, Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau karsyan. Para resi adalah mereka yang mengundurkan diri dari dunia ramai, memilih hidup menyepi di keheningan alam pegunungan dan kehijauan hutan yang masih asri.
Gunung Pawitra dijadikan pusat aktivitas keagamaan kaum resi, tentu berdasarkan pemikiran bahwa Pawitra tidak lain dari puncak Mahameru itu sendiri. Apabila para resi dan kaum pertapa itu bermukim di lerengnya, berarti lebih mendekati rahmat dewa, lebih mudah berkomunikasi dengan dunia Swarloka, tempat Girinatha (Siwa) dan dewa-dewa lainnya bersemayam.

Sumber : Cerita Rakyat

Nurture Nature for Our Future

Nurture Nature for Our Future

Nature holds the key to our aesthetic, intellectual, cognitive and even spiritual satisfaction’ – E. O. Wilson

 

Along with JUNGLE GHOST’s passion in the nature preservation of Indonesia, and as the first program of Jungle Ghost – Kiowa, Bali’s first program, this event is intended to bring awareness to the public about the importance of balancing nature for the future sustainability.

As a non-governmental organization emphasizing on the nature activity, we want to expand JUNGLE GHOST movement not only at the mountains but also at local community and concerning sea as the biggest part of this earth.

 

Several activities has been successfully executed, including:

 

100 BABY TURTLE RELEASE. Sea Turtle populations has been significantly declined from many areas of the globe due to commercial fishing, traditional ceremonies usage, loss of nesting habitat and climate change are among the human-caused threats pushing sea turtles towards extinction. This major change affected the capability to fulfill the balance and vital functions of the oceans ecosystems. If you lose one, the rest will eventually follow to fall down. An essential step toward restoring healthy ocean ecosystems is required urgently. More proactive conservation measures are needed to protect sea turtles and rebuild their populations to healthy levels so they can fulfill the full extent of their historic roles in ocean ecosystems.

 

EXPLORE MOUNT AGUNG and TREE PLANTING. It is needless to speak the importance of trees for the world. We should not use and destroy trees at random, rather we should plant trees more and for a better and healthier life. The importance of forests cannot be belittled ever. They help in preserving soil from erosion, attract water-laden clouds for rain, provide valuable timber and are responsible for retention of subterranean water. During the hike towards Mount Agung Summit, all the participants brought 60 Intaran Trees to be planted along Mount Agung track, however due to extreme weather, the trees was given to the local village residents to planted at the forest area around Pasar Agung Temple.

 

EXPLORE MOUNT BATUR. The whole programme will be closed by hiking Mount Batur, an active volcano which according to Hindu Believe is one of the sacred mountain in Bali, stands at 1717 meters above sea level and it is located at Batur village in the Kintamani region.

 

By executing this event, we want to strengthen JUNGLE GHOST’s bond with nature as a whole link with the universe and between JUNGLE GHOST’s family members. Hope to have harmonious relation among the holy spirit, nature and the old wise tradition for a  peaceful living.

 

Bali, Mid August 2016.

JUNGLE GHOST

Surf and Turf

Surf and Turf
[slideshow width=”800″] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368263/Tukik01_yrnknj.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368264/Tukik02_wkkqp8.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368263/Tukik03_xjc8bj.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368263/Tukik04_ucypfj.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368263/Tukik05_ysi6xh.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368264/Tukik06_ilsc7g.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368263/Tukik07_vi4okk.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368265/Tukik08_zpcuoj.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368264/Tukik09_jv8fxg.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368266/Tukik10_k8l9ue.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368264/Tukik11_d7hxjd.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368265/Tukik12_tswnia.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368264/Tukik13_yjsqob.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368265/Tukik14_kjp9b1.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368266/Tukik15_vvx6tt.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368266/Tukik16_oldgu5.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368265/Tukik17_rbxqlh.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368266/Tukik18_dcjm35.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368266/Tukik19_p8iwwz.jpg[/slide] [slide width=”100%” height=”100%”]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1473368266/Tukik20_p0jbbi.jpg[/slide] [/slideshow] [hr]

Kode Etik Pecinta Alam

Kode Etik Pecinta Alam
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa
Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
7. Selesai

Disyahkan bersama dalam Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974

Deklarasi Clan : IROQUOIS Jakarta

Deklarasi Clan : IROQUOIS Jakarta

Selamat dan sukses atas deklarasi clan ke 12 Jungle Ghost: IROQUOIS Jakarta yang dipimpin oleh Ivonne Sulistiarso

Deklarasi dilangsungkan di bumi perkemahan Ragunan pada hari Minggu, 20 Maret 2016 dan dihadiri oleh para Founder, Pengurus Pusat dan Beberapa Clan Dalam Lingkaran Jungle Ghost diantaranya Seneca Bogor, Mohawk Cirebon, Onondaga Brebes dan Cetan Nagin Tangerang.

[slideshow width=”500″]

[slide width=”500″ height=”150″]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1458581540/iroquios1_tkqrjk.jpg[/slide] [slide width=”500″ height=”150″]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1458581541/iroquios2_ufjny2.jpg[/slide] [slide width=”500″ height=”150″]http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1458581541/iroquios3_zzkzoa.jpg[/slide] [slide width=”500″ height=”150″] http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1458581541/iroquios4_qu2yvd.jpg[/slide] [slide width=”500″ height=”150″] http://res.cloudinary.com/jg/image/upload/v1458581541/iroquios5_ibtkxj.jpg[/slide] [/slideshow] [hr]

Sejarah IROQUOIS

The Iroquois menyebut diri “Haudenosaunee”, yang berarti “Orang-orang dari Longhouse,” atau lebih tepatnya, “Mereka Membangun Long House.”

Menurut tradisi mereka, The Great Peacemaker memperkenalkan nama pada saat pembentukan Liga. Ini menyiratkan bahwa negara-negara Liga harus hidup bersama sebagai keluarga di rumah panjang yang sama.

Secara simbolis, Mohawk adalah penjaga pintu timur, karena mereka berada di timur terdekat dengan Hudson, dan Seneca adalah penjaga pintu barat “rumah panjang suku”, wilayah yang mereka kuasai di New York. The Onondaga, dimana berada di pusat wilayah Haudenosaunee, adalah sang penjaga (baik literal dan kiasan) pusat api liga.

[hr]

Kutipan dari Konstitusi IROQUOIS

Akar telah menyebar dari Pohon Besar Perdamaian, satu di utara, satu ke timur, satu ke selatan dan satu ke barat. Nama akar-akar ini adalah The Great White Roots dengan sifat dasar Perdamaian dan Kekuatan.

Jungle Ghost Theme Song : Kopi Hitam

Jungle Ghost Theme Song : Kopi Hitam

[hr]

KOPI HITAM

 

Kopi hitam ada cerita
Beribu ragam canda tawa
Kopi hitam selalu disini
Jungle Ghost kita tetap lestari

Kopi hitam membuka mata
Ikatan sahabat takkan terlupa
Tawa suka kan selalu ada
Walau jatuh di tanjakan cinta

Senaru ke Pelawangan
Memancing ikan di Segara anak
Marilah mari hai kawan
Beradu dendang bersorak-sorak

Puncak sejati meraung Raung
Hargo Dumilah di puncak Lawu
Mari kawan kita bersenandung
Sesama Jungle Ghost bilang I HOWGH U