Budaya

Kanekes

Kanekes

Sesuai yang direncanakan jauh jauh hari. Seneca mengagendakan Kanekes sebagai tujuan explorasi budaya Indonesia dalam rangka mewujudkan karakter cinta akan adat dan budaya Indonesia dan pemenuhan agenda tahunan rencana kerja Seneca sebagai oboz Jungle Ghost wilayah Bogor.

Penulis beserta istri telah berada di Jakarta mulai tgl 13 Mei 2015. Kami dijemput oleh saudara kami yang admin di Pendaki Gunung Indonesia juga beliau ikut dalam kepengurusan Jungle Ghost , saudara Rizal yang lebih dikenal sebagai juragan outdpor equipment online Sogo Jongkok.
Menginap dirumah beliau itu serasa di rumah sendiri. Banyak yang kami bicarakan.
Mengenai keluarga dan banyak hal seputar dunia pendakian.
Tepat pukul 6.00 tgl 14 Mei 2015 kami diantar ke stasiun Tanah Abang dengan mobil baru beliau. Hehe, selamat ya bang Sogo.

Di Stasiun Tanah Abang telah berkumpul kawan kawan dari Bogor, Jogjakarta dan Surabaya. Menggunakan kereta api Rangkas Jaya tepat pukul 08.00. Ketua Tim Expedisi Add Classic tampak sibuk mengurusi segala sesuatu dibantu Andri Maula Daisuki.

Stasiun Tanah Abang terkenal stasiun paling padat dan ramai di Jakarta. Di sini ada grosir pakaian terbesar di kawasan Jakarta.
Seperti biasa, kawan kawan memang tidak pernah bisa sepi. Ramai pembawaan kalau sudah berkumpul. Seakan gerbong 5 saat itu resmi menjadi milik Jungle Ghost.
Pukul 11.00 tiba di Rangkas Bitung. Sempat molor 1 jam, kami melanjutkan perjalanan ke Ciboleger Lebak Banten dengan menggunakan mobil Elf.
Perjalanan normal biasanya mwnurut kang Mickey, sopir, 2 jam . Akan tetapi kita akan tiba dalam 3 jam kali ini. Masih ada perbaikan jalan yang panjang dengan sistem buka tutup jalan di Cimarga.
Terkantuk kantuk kami dalam Elf. Struktur jalan yang rusak membuat perjalanan terasa lama dan kurang nyaman. Canda tawa mengurangi penat sesekali terdengar. Namun tidur lebih dipilih para peserta expedisi. Menyiapkan fisik sebelum trekking dimulai.
Tiba di Ciboleger pukul 15.30.

Akhirnya.
Terminal Ciboleger lebih bisa disebut pool terakhir mobil mobil penyedia layanan transportasi Rangkas Ciboleger. Dan kami lihat berjejer rapi mobil mobil pribadi para pemgunjung wisata Baduy. Ada toko Alfamart dan banyak toko yang menyediakan pernak pernik dan buah tangan di Ciboleger.

Pukul 15.00 kami tiba di Ciboleger. Segera menuju rumah makan untuk beristirahat dan sholat. Kang Jamal mempersilahkan kami untuk rehat sejenak sebelum memulai perjalanan ke Baduy Luar.
Di Ciboleger kita sudah bisa melihat interaksi warga dan orang orang suku Kanekes baik luar mau pun dalam. Untuk bisa membedakan Baduy Luar dan Baduy Dalam kita bisa melihat dari pakaian dan alas kaki.
Orang orang Baduy Dalam tidak beralas kaki dan hannya memakai baju putih atau hitam dan samping / kain yg dilipat srpwrti sarung sampai lutut berwarna hitam garis garis putih dg ikat kepala putih.
Sedang Baduy Luar lebih berwarna dengan samping batik biru dan kebaya beragam warna tapi lebih dominan berwarna ungu tua.

Makan siang yang nikmat. Walau terasa aneh. Makan di rumah makan dengan menu timbel bekal kawan kawan Seneca Bogor. Hoho. Kami hanya memesan sedikit lauk tambahan dan air mineral. Hoho Jungle Ghost begitu orang orangnya. wink emotikon
Selepas ashar kami berangkat dipandu kang Jamal, asli Baduy.

200 meter menanjak gapura selamat datang di Baduy sudah menyambut. Kanan kiri rumah panggung kayu berdinding bilik bambu berderet rapi. Tertata rapi menjadi obyek pameran pengunjung, sisi terluar Kanekes yang indah bagi pengunjung yang datang sekedar berekreasi di Ciboleger.
Gadis gadis penenun memperagakan kepiawiannya menenun kain dengan corak khas Baduy, ayunan bayi dari kain tergantung depan rumah meninabobokan sang bayi menjadi pemandangan khas yang mengagumkan. Pola pengasuhan yang indah.

Ada sekitar 40 rumah di area tersebut. Sampai pada batas jalanan berbatu dengan pepohonan rimbun menurun. Aura mistis mulai menyergap. Dingin. Seakan ini adalah pintu sebenarnya. Dan benar saja.
Saat kami mulai masuk, segera kami melihat hutan, sungai besar.
Perjalanan sesungguhnya dimulai. Kami langsung asyik dengan trek yang berbatu, naik turun. Keringat bercucuran. Ini tidak jauh berbeda dengan pendakian. Kalori yang terbakar sama saja.

Sesekali tawa kami berderai. Bercanda sepanjang jalan. Damai kami sepanjang jalur. Berpapasan dengan para warga Baduy. Keramahan yang bisa kami tangkap dari keseharian mereka. Jujur saya menyukai penampilan fisik orang Baduy. Tampan dan cantik. Kulit mereka bersih.
Jembatan yang melintasi sungai sangat eksotik. Campuran material kayu, bambu dan tali ijuk yang menunjukkan arsitektur yang luar biasa telah diperlihatkan di sini.

Lebih dari dua jam kami menyusuri Baduy Luar, tiga kampung terlewati. Ada sekilas sekelompok anak bermain bola dengan kostum Barcelona dan Real Madrid. Baduy Luar sudah bisa bertransformasi budaya. Walau adat tetap mereka pertahankan dengan ketat.
Sampai pada jembatan sungai yang entah keberapa kalinya, sampai juga di Cikakal Muara. Tempat kami akan menginap malam ini. Dua rumah panggung berhadapan telah disiapkan kang Jamal. Segera kami menghempaskan badan.
Keringat telah kering. Saatnya mandi membersihkan badan. Dan itu berarti sungai.

Menjelang magrib kami tiba di Cikakal Muara. Dua rumah panggung khas Baduy Luar menjadi tempat peristirahatan. Untuk membersihkan badan ada kamar mandi kecil, tapi tidak kami indahkan. Sungai lebih menarik. Segera kami berlarian.
Kampung Cikakal Muara di apit dua sungai. Sebelah timur lebih besar , di sebelah barat lebih kecil tapi kejernihan dan tingkat derasnya lebih. Diputuskan yang laki laki di sebelah timur, wanita sebaliknya. Mengenai dua aliran sungai ini akan kita bahas dibagian lebih lanjut.

Mandi bersama di sungai mempunyai nuansa tersendiri. Pelepas lelah perjalanan, mengembalikan memori indah masa kecil. Tanpa ragu semua menceburkan diri. Sayang batuannya besar besar dan tidak ada ceruk yang dalam. Tidak memungkinkan untuk bermain lompat dan salto ke air. Bahkan ada hal menarik yang lucu dan memancing tawa berderai. Saat Defan gosok gigi. Mulut Defan sudah berbusa pasta gigi, saat hendak berkumur, ada ” sesuatu” yang mengikuti aliran air. Sontak semua tertawa. Defan kebingungan, wajahnya sedikit pucat dengan sikat gigi yang masih tergigit dan berbusa.

Aha…
Malam beranjak larut, suasana Cikakal Muara begitu hening. Tidak ada penerangan listrik. Sepertinya orang Baduy memang segera beranjak ke peraduan saat gelap menyelimuti. Rahasia hidup sehat yang luar biasa. Dalam hati saya bergumam ” pantas saja orang Baduy tampak cerah dan kuat. Pagi bekerja keras, malam mereka segera tidur tanpa sedikit pun terkena radiasi cahaya lampu listrik. Teringat hadits Nabi yang menyuruh kita memadamkan lampu saat tidur. Sungguh benar apa yang Beliau perintahkan”.
Para wanita peserta expedisi sudah terlelap, lain halnya dengan para lelaki. Menyeduh kopi dan mengobrol sampai larut. Rupanya materi pernikahan sangat menarik bagi mereka. Entah karena suasana yang sepi atau cahaya bulan sedikit menerobos dari balik pepohonan yang membangkitkan endorphin malam itu.
Sebagai pelaku pernikahan, penulis hanya bisa menunggu kabar baik.

Jumat,15 Mei 2015, selesai sarapan kami bersiap. Setelah mandi di sungai besar, sarapan , kami berkemas kembali. Kali ini kami bersiap menuju Cibeo. Suku Baduy Luar yang terdekat dengan Cikakal Muara ( Baduy Luar). Kang Jamal , pemandu kami menjelaskan kepada peserta bahwa untuk mencapai Baduy Dalam estimasi waktu sekitar 4- 5 jam dengan kondisi perjalanan naik turun bukit dan menghimbau agar peserta bisa membawa diri, tidak terpencar, dan sembarangan dalam melintasi area Baduy karena ada banyak wilayah pribadi yang menjadi adat masyarakat Baduy. Pun untuk tidak mengambil gambar selepas jembatan gantung terakhir

Pukul 08.00 , kami berangkat, dan betul saja perjalanan memang naik turun bukit. Keringat segera saja membasahi tubuh kami, tapi tidak usah khawatir, persediaaan air minum melimpah, dan banyak penjaja minuman di jalur menuju Cibeo.
Sepanjang jalur terkadang kami bertemu dengan warga Baduy Dalam, kecantikan paras seorang anak perempuan menarik perhatian kami. saat melepas lelah dan bertanya pada keluarganya tentang perawatan wajah, mereka menunjukkan Kicaang, daun yang memang mereka pergunakan untuk perawatan wajah. Luar biasa, alam memberikan lebih bagi siapa saja yang tinggal dan menetap serta menjaga alam dalam kondioisi baik.

Pukul 13.00 kami sampai di Cibeo, disambut Jaro Mursyid, puun setempat atau sesepuh Cibeo. Para Jungle Ghost berkumpul dan bersila di rumah Jaro Mursyid. Menikmati hidangan air minum dalam gelas bambu yang segar. Segera saja ,kami terlibat perbincangan yang seru dan menarik setelah sedikit perkenalan.
Banyak hal yang Jaro Murssyid ajarkan kepada kami, tentang legenda Gunung Kendeng, adat istiadat baduy, filosofi mereka tentang alam, dan upaya menjaga adat dan alam tempat tinggal mereka. Kami juga menyampaikan tentang Jungle Ghost, beliau tampak tertarik dan bangga dengan upaya Jungle Ghost yang berusaha menjadi kelompok masyarakat hutan. Pesan beliau adalah terus gelorakan kembali semangat perbaikan dalam diri manusia, semangat kembali ke alam. Pesan beliau yang banyak tercatat dalam sanubari para Jungle Ghost adalah ” hade alamna, hade manusana” ( Kalau alamnya baik, berarti manusianya baik). Luar biasa, petuah yang sangat mendinginkan hati, tidak sia sia kami melakukan perjalanan.

Dua jam kami berbincang, hujan turun. Hari merambat sore, setelah reda, kami berpamitan kepada Jaro Mursyid dan para pengawal yang berada di luar rumah panggung. Tanpa harus melihat seperti apa, kami sudah bisa membayangkan bagaimana para ibu adalah madrasah pertama dan utama dalam membina generasi muda, rumah adat utama yang menjadi tempat berkumpul dan bermusyawarah, juga tentang Kawalu ,hari raya mereka. Prinsip perkawinan yang luar biasa, apa yang telah disatukan adat, tidak boleh diceraikan kecuali kematian. Proses penguburan sederhana, tanpa nisan, yang pergi biarlah pergi. Sungguh saya ingin menetap disini.

15.00, kami pulang, menapaki jalan semula kami datang. Beribu perasaan berkecamuk, sedikit yang tertawa dan banyak merenung sepanjang perjalanan. Kami menuju Cikakal Muara kembali untuk menginap semalam lagi dan esok pulang.

Comments are closed.