Budaya

Suku Boti

Suku Boti

Tentang Suku Boti:

  • Raja/Usif Boti: Nama Benu
  • 72 kepala keluarga
  • 70 kk(kepala Keluarga) warga/Rakyatnya
  • 2 kk (kepala Keluarga) mendiami Istana/sonaf
  • Yang mendiami Istana adalah
    Raja/Usif: Nama Benu
    anak ke dua dari Nune Benu
    dan saudara Perempuannya

Hiduplah Selaras dengan Alam

  • Lais Manekat : Saling Menyayangi
  • Lais Ma’upab ; saling Menghargai

Merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Meto.
Wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e.
Secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie.
Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman.

Suku ini memiliki bahasa Dawan sebagai bahasa daerahnya.
Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.

Dalam kehidupan sehari-hari ada pembagian tugas yang jelas antara kaum lelaki dan perempuan. Para lelaki bertugas mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu. Sementara urusan rumah tangga, diserahkan kepada kaum perempuan. Meskipun pembagian peran ini biasa dijumpai dalam sistem kekerabatan, ada satu hal yang membuat warga Boti agak berbeda, mereka menganut monogami atau hanya beristri satu. Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka akan menggelungnya seperti konde.

Bila kepercayaan dan aturan adat Boti dilanggar, maka akan dikenakan sanksi, tidak akan diakui sebagai penganut kepercayaan Halaika, berarti harus keluar dari komunitas suku Boti, sebagaimana yang terjadi pada putra sulung Laka Benu, kakak dari Raja Usif Nama Benu. Laka Benu yang seharusnya menjadi putra mahkota, memeluk agama Kristen sehingga ia harus meninggalkan komunitas Boti.

Suku Boti Dalam adalah suku tradisional yang tidak pernah berubah. Suku ini mewarisi cara nenek moyang mereka dalam berkomunikasi.

Misalnya,suku menggunakan “natoni” sebagai media tradisional hampir disetiap upacara sakral
natoni dipahamisebagai ungkapan pesan yang dinyatakan dalam bentuk syair-syair kiasanadat yang dituturkansecara lisan oleh seorang penutur (atonis) yang kemudian ditemani oleh sekelompok orang sebagai pendamping atau pengikut (na he’en) yang ditujukan baik kepada sesamamanusiamaupunkepada para arwah orang mati atau dewa. Natoni biasanya dituturkan dalam rangka upacara adat (upacara adat perkawinan dan kematian)

Ada beberapa simbol komunikasi yang digunakan dalam natoni. Simbol-simbol tersebut antara lain: tempat sirih pinang (okomama),selendangBoti, uang (uang logamatau golden dan uang kertas), dan perlengkapan prajurit (meo) seperti ikat kepala (pilu), sebilah parang (kelewang),sebuahtassirih pinang bertaliperak (aul ais noni), dan fut noni(ikat pinggang dari perak). Simbol-simbol tersebut selalu dipakai dalamsetiap penyelenggaraan natoni khususnya natoni yang dilakukan secara berbalas-balasan (natoni perkawinan dan natoni kematian). Setiap simbol komunikasi tersebut mengandung makna tersendiri bagi masyarakat suku Boti Dalam. Okomama melambangkan persatuan di antara dua kelompok yang sedang melakukan natoni secara berbalas-balasan. Disebut sebagai pemersatu karena biasanya dalam setiap penyelenggaraan natoni secara berbalasbalasan sering terjadi ketersinggungan di antara kedua kelompok tersebut. Karena itulah bilamana salah satu kelompok merasa tersinggung karena bahasa yang digunakan oleh kelompok lawannya maka okomama itulahyang dianggap sebagai alat pemaaf. Saat disuguhkan okomama maka kelompok yang yang tersinggung dengan sendirinya memaafkan kelompok lawan

Natoni lebih banyak mengandung unsur ritual dan adat yang sangat kental, dapat pula diselipkan pesan-pesan atau informasi tertentu sesuai konteks dimana ia dilakukan atau dipertunjukkan. Karena ada selipan pesan yang demikianlah maka natoni dalampemanfaatannya sebagaimedia tradisionaljuga menjalankan fungsi pembawa pesan

Natoni dimanfaatkan sebagai media tradisional, namun dalamproses pelaksanaannya, kesenian tradisional ini mempraktekkan bentuk komunikasi ritual. Natoni dalam praktek komunikasirituallebihcenderungmenampilkanaspek pertunjukan atau seremonial yang sakral dan keramat

Natoni ditujukan untuk saling berbagi guna memupuk persahabatan atau kekerabatan baik terhadap alam, sesama manusia, arwah orang mati, maupun uis neno dan uis pah sebagaidewa yangmereka sembah.Tujuan utama dari komunikasiritual dalam natoni adalah mewujudkan keutuhan sebagai sebuah komunitas adat,sertamenghadirkan kembali keyakinan-keyakinan masyarakat yang bersifat religius magis. Pada Natoni diselipkan pesan maka dimanfaatkan sebagaisarana dalamberkomunikasi baik di antara sesama masyarakat sukuBoti Dalam, berkomunikasi dengan pihak luar, maupun denganarwahorangmatiserta para dewa

Nilai-Nilai yang di pegang teguh Suku Boti

Suku Boti dikenal sebagai suku yang religious. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang selalu melekat dengan nilai-nilai kepercayaa dan keyakinan mereka yang disebut halaika. Segala aspek kehidupan telah diatur oleh kepercayaan dan keyakinan mereka. Mulai dari kehidupan berkelompok hingga dalam hal pekerjaan.

Misalnya seorang suku Boti harus menghormati alam karena mereka hidup dari alam yang telah dilindungi Uis Pah, roh penjaga bumi. Mereka berpandangan bahwa manusia harus bersahabat dengan alam karena alamlah yang menyediakan makanan dan minuman. Karenanya, pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan, makanan tidak boleh dipanen sebelum waktunya, bahkan rambut mereka pun tidak boleh dicukur. Alat dapur mereka pun terbuta dari bahan alam, misalnya piring, sendok, dan gelas yang mereka pakai pun terbuat dari tempurung kelapa.

Bagi suku Boti, alam merupakan Tuhan yang harus mereka sembah (Uis Pah) karena alam telah memberi mereka kehidupan. Oleh sebab itu, keseimbangan alam harus dijaga dengan baik dan ketat.

Dalam kehidupan sosial misalnya, seorang suku Boti yang mencuri pisang tidak “dihukum”, namun warga sekitar malah menanam pohon pisang di sekitar rumah si pencuri. Hal tersebut dilakukan atas asumsi bahwa yang mencuri pisan tersebut sangat membutuhkan pisang untuk makan.

Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa pandangan hidup orang Boti erat katannya dengan nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan mereka (halaika). Tradisi halaika mengagungkan 4 nilai-nilai dasar yang biasanya disebut dengan ha’ kae (empat larangan) sebagai acuan atau rujukan dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat larangan ini merupakan artikulasi dari pandangan hidup suku Boti mengenai tindak-tanduk yang harus mereka lakukan dan bagaimana cara menjadi manusia sebaik-baiknya.

Keempat larangan tersebut antara lain:

  1. Kaes mu bak artinya warga halaika dilarang mencuri;
  2. Kais mam paisa artinya warga halaika dilarang berzinah dan merampas istri orang lain;
  3. Kaes teun tua artinya warga halaika dilarang meminum minuman keras/beralkohol;
  4. Kaes heot heo artinya warga halaika dilarang memetik bijol atau biola tradisional khas orang Timor, memetik buah kusambi (kaes hupu sapi), dan memotong bambu (kaes oet o’) bila waktu untuk memanen belum tiba.

Mengasihi sesama manusia atau dalam bahasa dawan (bahasa komunkasi suku Boti) disebut lais manekat menjadi perwujudan dari nilai-nilai halaika dalam kehidupan mereka. Menjaga perbuatan dan tindakan agar tidak menyinggung dan melukai hati orang lain merupakan bentuk kasih sayang mereka. Adapun nilai-nilai yang dianggap baik bagi kaum halaika adalah menjadi penganut halaika yang baik.

Ciri-ciri dari seorang penganut halaika yang baik, dan taat adalah:

  1. Berkonde bagi pria dewasa dan menyanggul rambut bagi kaum perempuan;
  2. Memakai soit pada setiap ikatan rambut yang disanggul/dikonde;
  3. Semua pria dewasa memakai selimut berlapis. Lapisan pertama disebut mau pinaf (selendang pembungkus bagian dalam) dan lapisan kedua sebagai selendang luar (mau fafof). Pada kaum perempuan, mengenakan sarung juga dengan dua lapis: lapisan pertama adalah sarung tenunan (tais), dan lapisan kedua berupa selendang kain (lipa);
  4. Selalu membawa saku sirih pinang (alu’ mama untuk laki-laki; oko’ sloi untuk perempuan) ke mana pun bepergian;
  5. Menaati pantangan-pantangan atau larangan sebagai penganut halaika;
  6. Tidak menggunakan alas kaki;
  7. Berbicara dengan sangat sopan. Selalu menghargai orang lain sebagai yang mulia dan patut dihormati;
  8. Harus bisa menenun bagi setiap perempuan dewasa; dan
  9. Khusus perempuan, tidak diijinkan menatap muka lawan jenisnya secara langsung saat berkomunikasi.
  10. semua warga boti sangat sangat setia dengan apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh raja mereka atau kepercayaan mereka. Oleh karena itu, mereka akan selalu menunjukkan sikap dan tindakan yang patuh, taat, dan setia terhadap berbagai ajaran sang raja. Apapun yang menjadi titah raja, pasti diikuti dan dijalankan tanpa membantah.

Comments are closed.