Artikel

JG Pulang : Gede Pangrango 29 April – 01 Mei 2017

JG Pulang : Gede Pangrango 29 April – 01 Mei 2017

Pendakian bersama JG : Gede Pangrango

-Tak mengeluh di Tanjakan Baeud.-

Indah…. Hanya satu kata itu yang bisa saya katakan, Sudah beberapa kali saya mendaki di gunung ini Tapi kali ini berbeda.
Sebagian besar keluarga Jungle Ghost tumpah ruah berdatangan dari berbagai penjuru angin.
Surabaya, Semarang, Cirebon , Majalengka, Sumedang, Bandung, Tangerang, Bekasi , Purwakarta, Brebes dan Bogor tentunya sebagai tuan rumah.

Kesibukan pendataan dan pengurusan simaksi tentunya menguras waktu dan tenaga,
semua bisa diselesaikan dengan baik oleh Seneca yang memang memilki kedekatan yg harmonis dengan Lentera dan TNGP.

Saya sudah bisa membayangkan bagaimana riuh dan cerianya Jalur Gunung Putri saat semua JG yang ikut mulai menapaki.Ada Koko yang tangguh, Muzzton , Fuad , Maho yang pendiam tapi gokil. Ada gantengnya Shandy, cerianya Akew dan comelnya Omat.
Dan bagaimana kecantikan squaw yg meronai jalur sepanjang pos pertama sampai Simpang Maleber. Ada Susi, Irma , Amel ,Nina , Icha, dan banyak yg lainnya.

Dan saya menyendiri di jalur, menyesap semua keceriaan itu. Melihat anak saya srndiri melesat meninggalkan semua kekhawatiran, merasakan belaian jalur putri yang sejuk.
Melihat muka keluargaku yang jernih dan ceria setiap pos memborong jajanan khas Gepang.

Saat riuh lima kelompok Jungle Ghost mulai mendaki Gede via Jalur Putri,
sebenarnya satu tim kecil telah beranjak mendahului mereka di pagi buta.
Add Classic mengepalai tim ini didampingi istri tercinta Teh Classic ,Andri Maula Daisuki, Aldiansyah Zapatista Chumenk ,

sepasang kekasih campuran Seneca dan Chomance, Oman Deta. Wa Bokir, Toro, Acong, Asandi dan beberapa lagi.
Tim menyiapkan logistik dan pengamanan area Alun Alun Barat Surya Kencana. Tugas divisi ini sungguh mulia.
Mempersiapkan kebutuhan logistik peserta Pulang Bersama sejumlah 104 orang.
Bisa dibayangkan beban dan peralatan yang dibawa tim ini.

Saat saya dan kelompok kelompok lain tiba, tenda Divisi ini sudah berdiri rapi,
area telah disiapkan dan makan telah siap saji. Luar biasa.
Kinerja yang luar biasa, sepuluh jempol saya buat tim Logistik.

Tak banyak yang tahu, bahkan mungkin di antara para senior sendiri tidak menyadari.
Bahwa yang beranjak mendaki terlebih dahulu ini , yang mengepalai tim Logistik ,
mengamankan area dan memasak untuk 104 anggota Penmas ini adalah Wakasuk JG Nasional.
Wakil Kepala Suku JG Nasional, Add Classic.

Saya menitikkan air mata melihat keikhlasan beliau. Saya merasa kecil dan tak berarti. Ini JG Bung !!!
Filosofi yang kami anut menancap erat dalam jiwa. Melayani tamu dengan sebaik baiknya adalah prinsip dan nilai primitif yang kami pegang.
Add Classic sungguh telah mengajarkan kita dalam perjalanan ini.
Panjang umur Wakasuk !!!

 

– terjal jalan tak hentikan tawa kami –

Pembagian grup telah ditetapkan. Bahkan saya terpisah dari anak dan istri saya. Saya kelompok satu ,
Raja kelompok dua dan istri saya kelompok lima. Sebersit kekhawatiran terhadap istri.

Setelah berkutat dengan WO nya selama sebulan penuh..nyaris tanpa latihan,ia langsung memutuskan siap mendaki. Terhadap anak saya, tidak. Prau membuktikan fisiknya di atas rata rata.
Bagaimana pun panitia memikirkan hal terbaik. Saya berbisik dalam hati” Ini latihan Padang Masyhar,
di mana setiap keluarga akan sibuk dengan sendirinya”..

Step by step, langkah demi langkah, sesekali tawa membahana terdengar dari atas dan bawah.
Ziyah melesat terlebih dahulu dengan Sheny, Koko dan Pahmi memimpin depan kelompok , Susi dengan DSLR nya,
Regita tampak tertunduk,sesekali menghela.

Saya dan Beta di belakang mengawasi.
Shelter Satu terlewat mulus. Perjalanan makin terjal, sesekali lutut bertemu perut.
Sepanjang jalan banyak yang kami lewati. Banyak pria berjanggut dan juga anak anak yang digendong. ” Wah sepertinya akan ramai di Surya Kencana”

Sedikit agak kesal ketika dua jam lebih terlampaui , bahkan tiga jam tidak bertemu shelter berikutnya.
Tapi alangkah kaget saya ketika sampai di shelter berikutnya ternyata sudah Buntut Lutung.
” Pantesan.. lha Pos Lawang Saketeng kapan.. ? atau tulisan pos itu sudah tidak ada sepertinya ”

Di sini saya memutuskan untuk berhenti mengikuti kelompok dan izin menunggu Raja..
karena saya tahu ia hanya membawa satu botol aqua kecil. Raja itu tangguh dan masih pemalu.
Saya khawatir air minumnya habis dan ia tidak berani meminta pada kawan seperjalanan.
Sebentar saya tertidur dan terbangun oleh suara yang saya kenal dari bawah.
Raja datang. Aquanya masih separuh. Ughh

Kami melanjutkan perjalanan dan sebentar saja bisa menyusul kelompok awal.
Raja bahkan melesat dengan Koko dan Fahmi meninggalkan kelompok.
Tidak lama kemudian dari HT terdengar mereka telah menembus Surya Kencana sementara kami masih terhempas di Simpang Maleber.
Saya berhutang satu gelas teh manis, dan lima gorengan sama Ziyah. Ingatkan ya Ziyah..
saya tidak sanggup menanggung hutang saat di Padang Masyhar nanti

 

– ada cemburu di jalur Putri –

Saya menjejak Alun Alun Timur Surya Kencana setelah sebelumnya berjibaku dengan rasa kesal di Tanjakan Baeud,
antara Simpang Maleber dan Alun Alun Timur Surken, tepat pukul 16.00, 29 April 2017.
Lega rasanya. Saat menghempaskan diri rerumputan, senyum tersungging di dua remaja yang tak pernah jauh dari saya.

Iqbal AR Rasya dan RaFi Herynawan . Dua akheceta yang tangguh, cekatan seakan mengawal saya dari awal keberangkatan. Seolah olah mendapat tugas dari komandan Lentera , kang Nunu Herudin agar mereka mengawasi si tua ini.
Iqbal ini putra kang Nunu. Kedua remaja yang elok dan tampan,
sukar membayangkan kalo kedua anak ini adalah guide dan porter profesional squad Lentera Indonesia.
Sungguh , telah terbit rasa sayang, dedeuh dan bangga pada kedua anakku ini.

Tiba tiba, saya teringat istri saya. Ia masih jauh tertinggal di bawah.
Masih berkutat di jalur yang rempong ini. Saya berikan tas carrier saya kepada Iqbal.
” Bal, Om turun dulu jemput Umminya. Tolong bawakan carrier om ke Alun Alun Barat ya “.
Tempat camp memang di Alun Alun Barat , 15 menit perjalanan menyusuri Alun Alun yang luas di Gede.
” Iqbal aja yang turun Om .. “. ” Tidak Bal ” sahut saya. ” Bagaimana pun itu tugas Om, Om suaminya. Bawakan tas Om aja ”
Segera saya setengah berlari turun, dan ternyata Aldiansyah Zapatista Chumenk pun berinisiatif untuk melakukan penyisiran dan penjemputan.

Melalui HT kami mencoba melacak posisi uminya. Tersambung dengan Dhiee Atmadinata.
” Posisi di mana ? ” ” Simpang Maleber Wa… “. Alhamdulilah.. segera kami setengah berlarian menuruni Tanjakan Baeud.
Sesampainya di Simpang Maleber tak ada tanda kehadiran mereka. ” Di mana Wa, kok tidak ada di Simpang Maleber ? ” . Chuank menjawab ” Bawah dikit om… ” Njirrrrr… Buntut Lutung itu mah….. Arrghhh..

Segera kami menuruni jalur kembali. Sampai di pertengahan Buntut Lutung – Maleber,
nampak Chuank dengan Rischa Tosinia Putri. Saya turun lagi.. dannn… Ummi Noor Hasanah nampak.. wajahnya pucat.
Tapi… ada Kristian Beta di situ. Ummi sedang nemandangi Beta. Sejuntai Choki choki di sudut mulut Beta.
Jlebbb.. ada yang menusuk di sudut hati ini.
Pantas Beta memisahkan diri dari kelompok saya.

Segera saya raih tas Carrier Ummi dan meraih tangannya .” Ayo bergegas, hari mulai gelap ”
Sebentar saja kami tiba di Maleber.
Memesan teh manis dan beberapa gorengan.

Kali ini teh itu terasa pahit, aku cemburu…hehehe

 

– senja menguning –

Senja telah menguning saat kami tiba di Surya Kencana. Sebentar lagi berjelaga kabut,
bergegas mencari sekumpulan tenda kawanan Jungle Ghost.
Tidak akan kesulitan disetiap acara apa pun, JG memiliki karakteristik yang unik, khas, memudahkan dalam identifikasi.
Tenda tenda mungil sudah berjejer rapi, spanduk dengan lambang JG, warbonet yang terkulai di tonggak atau atap tenda,
bahkan cukup dengan berteriak Howghh, maka akan terdengar sahutan bergaung memantul kembali di Surya Kencana.

Tim pelopor sudah menyiapkan makanan untuk para rekan yang berangsur datang.
Saya selalu merasa riang dan ringan bila sudah berkumpul dengan kawan kawan JG.
Masih ada beberapa team yang belum datang,
bahkan terakhir malah baru berangkat dari pos Puteri jam 02.00 pagi karena ada hambatan kecil.

Malam itu dingin sekali, gerimis terus turun sepanjang malam.
Saya bergegas tidur. Si tua ini harus mempersiapkan diri karena Raja bersikeras untuk tetap merengkuh Gede dan Pangrango sekaligus esok hari.
Perjalanan yang berat, malam bukan untuk bercanda lagi. Ada hak bagi tubuh recharging, mengisi ulang tenaga dan melemaskan otot.

Ada beberapa tenda yang tak ditempati, saya dan keluarga menempati tenda Muzz Ton, ketua clan Night Wolf Surabaya.
Dalam tidur setengah terjaga, sayup gelak tawa dan obrolan kecil kawan kawan terdengar.
Menghangatkan Surya Kencana yang dingin menusuk.

Doa terakhir sbelum terpejam pada Sang Khalik ,
lindungi keluarga kecilku Tuhan,
lindungi dan satukan keluarga besarku Jungle Ghost dalam suka cita Mu.
Jaga silaturahmi mereka dan jauhkan pertengkaran antara mereka.
Bening hati kami selayaknya Surya Kencana yang luas terhampar.
Jadikan malam ini selimut yang menghangatkan hati mereka.
Esok yang terang , bangunkanku bersama mereka tanpa sesuatu yang mengganjal kebahagiaan ini. Aamiin.

Umi telah mendengkur halus, Raja di tengah tengah kami pulas , raut bahagia terpancar.
Saya mengecup kecil keduanya.
Bahagia bisa membawa mereka di Surya Kencana.

 

-Circle of Love-

Pagi itu dingin yang khas ala Surya Kencana, saya terbangun dengan segar,
membuka mata dan meraba atap tenda yang berembun. Sedikit menepuk pipi, meyakinkan diri telah sadar.
Ternyata di luar tenda telah riuh kawan kawan Jungle Ghost.
Bercanda melingkar dan tertawa bersama saling meledek dan bercerita.
Bahagia melihat elok persahabatan itu. Lupa dengan kemarin saat napas berderu di sepanjang jalur Gunung Putri.

Saya melihat gugusan bukit dengan vegetasi yang khas, eidelweis terhampar , kabut kecil membersit acak di sepanjang Alun alun Barat Surya Kencana.
Saya pikir hal yang sama dengan Alun alun Timur.
Kawan kawan sibuk berfoto dan berkejaran seperti capung dimusim kawin.
Hari ini agenda utama akan dilaksanakan.
Lingkaran utama digelar sebagai hal yang wajib dalam setiap acara Pulang Bersama Jungle Ghost.
Sarapan pagi bersama diiringi rintik gerimis kecil. Nikmat.

Saat melingkar, lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan gempita, Mars Jungle Ghost pun bergaung dengan gagah.
Sontak lingkara ini menarik perhatian para pendaki lain yang juga menginap di Alun alun Barat ini.
Saya selalu mengingatkan pada semua kawan akan pentingnya silaturahmi,
untuk menjadikan itu nyata dalam kehidupan bukan sekedar dalam sosial media belaka.
Mengharap agar kawan kawan tidak ikut larut dalam pertentangan dunia politik dan berharap agar sebisa mungkin mewarnai Indonesia,
dengan karya karya kecil kemanusiaan.

Sebagai satu dari sekian pendiri Jungle Ghost tentu menginginkan agar wadah organisasi pendaki gunung ini memberikan kebaikan dan harapan bagi anggota untuk menempa diri menjadi insan yang kuat dan berhasil di kehidupan nyata yang terkadang tak kenal belas kasihan.

Pembagian doorprize berlangsung dalam gelak tawa. Indahnya.
Berbahagialah kawan dalam lingkaran kita. Lingkaran keluarga kecil kita yang membanggakan.
Penuh cinta.

bersambung…

BY : Beben Lesmana ~ Hiawata onondaga ~

morepic by JG

Comments are closed.