Gunung

Lumpur itu Cokelat

Lumpur itu Cokelat

Petualangan kali ini memang sangat istimewa. Menerobos belantara hutan gunung sibuatan yang terkenal dengan alamnya yang masih sangat alami serta view danau tobanya yang sangat memanjakan mata. Akan saya ceritakan semuanya disini tapi sebelumnya akan saya kupas dulu sedikit informasi tentang keberadaan gunung favorit saya ini.

Gunung sibuatan (sibuaten) terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo Sumatera Utara. Gunung ini berdiri kokoh di sekitar danau toba dan termasuk kedalam tumor toba. Gunung ini diyakini sebagai gunung tertinggi di Sumatera Utara dengan ketinggian 2.457 mdpl. Selain itu, sibuatan juga memiliki curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata 2000 mm per tahunnya dan musim hujan terjadi pada bulan september hingga desember dan musim kemarau pada bulan januari hingga agustus. Info ini sesuai dengan pernyataan sang ranger gunung sibuatan dan juga dari beberapa tulisan di blog teman. Gunung sibuatan ini baru baru aja di ketahui keberadaannya, jadi.. hutannya masih sangat alami dan belum terjamah. Bahkan yang mengaku pendaki gunung di Sumatera Utara pun masih banyak yang belum mengetahuinya.
Nah.. penasaran kan? Makanya.. jalan jalan ke Sumut, ntar saya anter bertualang kesana. Heheh

Sebenarnya, mendaki di Sibuatan adalah keinginan lama dan baru terwujud sekarang. Tanggal 12-14 september 2014 menjadi hari yang paling berkesan di dalam hidup saya.

Hari itu hari jumat tanggal 12 september 2014. Berangkat dengan beranggotakan 7 orang dengan menggunakan kendaraan umum. Oh iya, sebelumnya saya kenalin dulu 7 petualang hebat yang ikut merasakan sensasi gunung sibuatan ini. Diantaranya : dari Jungle Ghost – Medan ada saya sendiri (Nel) dan Rido, yang lainnya adalah teman-teman kampus ada Kiki, Erik, Ronaldo, Mia dan Christon, dan sekedar info.. nggak ada satupun diantara kami yang tau rutenya. Bisa dibilang ini nekat hahah.

Perjalanan kami mulai dari gerbang pintu 1 Universitas Sumatera Utara – Medan pada pukul 16.00 wib menuju terminal rajanapogos yang menempuh waktu selama 15 menit. Setelah melakukan pemesanan tiket di loker dengan biaya Rp. 30.000/orang, kami memasuki bus kemudian melakukan perjalanan menuju Merek dengan menempuh 3 jam 50 menit perjalanan. Akhirnya sampe juga, kami charter sebuah angkutan umum atau angkot agar bisa sampe ke desa Nagalingga dengan biaya Rp. 10.000/orang. Saat perjalanan, kami harus berhenti dulu untuk melakukan registrasi dengan membayar Rp. 10.000/orang. Proses registrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan lagi ke desa Nagalingga dengan menempuh waktu selama 1 jam perjalanan. Angkot itu pun berhenti, kami turun dan berjalan kaki selama 15 menit dan bertemu dengan 2 orang ranger yang di tugaskan oleh petugas registrasi untuk mengantarkan kami ke lereng gunung sibuatan agar bisa mendirikan tenda dan beristirahat. Saat itu udah menunjukkan pukul 21.30 wib. Kami menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan, memasak dan setelah itu bercerita dengan salah satu ranger seputar sibuatan.

Sesuai dengan cerita sang ranger, setiap gunung itu ada mitosnya sehingga akan ada larangan-larangan atau pantangan yang harus kita patuhi agar semuanya berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan gunung sibuatan. Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat mendaki gunung sibuatan adalah:

1.  tidak diperkenankan untuk membawa pisau

2.  tidak ada acara menyalakan api unggun ketika sudah di gunung karena  gunung sibuatan terdiri dari tanah gambut dimana api yang kecil pun sangat  cepat menyebar.

3.   tidak diizinkan membawa makanan berbau amis karena memicu hewan-  hewan untuk keluar.

4.  hal yang paling penting adalah TIDAK BOLEH BERBOHONG

5.   tidak boleh merusak flora dan fauna

6.   masing-masing pendaki harus membawa minimal 5 liter air karena tidak    ada sumber air dihutannya.

Setelah semuanya selesai, malam pun semakin larut.. sebagian diantara kami tidur dan bangun pada pukul 05.30 pagi. Lagi-lagi kami mengelilingi api unggun bersama dengan pendaki lainnya dan memasak.

Pukul 07.00 wib, kami mulai packing barang, tenda dan segala keperluan lainnya sehingga setelah semuanya beres.. pada pukul 08.00 wib kami mulai melakukan perjalanan menuju rimba sibuatan.

Disinilah petualangan hebat itu dimulai. Dimana konsentrasi, mental, semangat dan rasa persaudaraan harus dijunjung tinggi. Tak ada satupun diantara kami yang tau rutenya seperti apa.. kami berangkat dengan niat yang tulus, rasa persaudaraan yang udah nggak diragukan lagi, serta perjanjian yang begitu kuat bahwa nggak ada satupun yang boleh merusak apapun di hutan. Jika melanggar, silahkan mundur dari petualangan ini. Alhamdulillah… semuanya setuju.

Awal trek, kami disuguhkan dengan hutan yang masih sedikit jelas rutenya walaupun sempat bingung memilih jalur karena kedua jalur yang ada dihadapan kami sama-sama memiliki jejak. Kedua jalur itu telah kami coba. Jalur pertama hasilnya buntu. Nggak ada keluhan yang terdengar gara-gara itu, bahkan semangat pun semakin membara. Kami menguatkan dan menyemangati diri sendiri bahwa ini adalah petualangan kita, kita yang rasakan… petualangan itu nggak bisa dibeli.. nikmati segala proses yang ada, lindungi temanmu dan tetap berdoa kepada Tuhan.

Alhasil, kamipun menemukan jalur yang benar dan melanjutkan perjalanan. Kami tak hentinya berbicara, menyanyikan lagu masa kecil (ost. Ninja Hatori), bercanda gila-gilaan, bully satu sama lain.. haha.. kami sangat bahagia.

Trek itupun berlalu, sekarang kami disuguhkan dengan hutan lumut nya sibuatan. Tak hentinya mulut ini berucap subhanallah.. kerennya minta ampun dah, wibawa hutan ini sangat kuat. Hutan lumutnya mengingatkan kami pada film “lord of the ring” keren abissss.., rasa kagum luar biasa. selain itu aroma khas anggrek hutan juga menerobos lubang pernapasan kami. Lama kami terduduk sambil istirahat di hutan lumut itu sambil berfoto-foto.

Setelah menikmati pemandangannya sebentar, kami melanjutkan perjalanan lagi. Pukul 13.00 wib kami tiba di shelter 2.

Trek dari shelter 2 menuju shelter 3 bisa dikatakan seram alias curam, ada jalur yang lebarnya hanya 50 cm dan kiri kanannya adalah jurang, kalau kurang iman dan konsentrasi bisa langsung sandang alhmarhum huahaha.. Hujan deras pun mulai turun, langit menjadi gelap, angin kencang dan petir menggelegar. Oh Tuhan… inikah yang namanya badai di ketinggian. Seraam…

Pepohonan mulai goyang tak beraturan, tanah mulai lunak dan berlumpur membuat langkah kami semakin berat dan bagi kami “Lumpur itu cokelat” dinginpun menusuk tulang. Perjalanan dari shelter 2 menuju shelter 3 memang lumayan jauh. Sering sekali kami berhenti untuk istirahat dan berkicau “trek ini tak berujung”. Namun, tak sedikitpun tercium aroma mundur dari 7 petualang hebat ini. Subhanallah.. seakan semangat semakin terbakar dan rasa kekeluargaan itupun semakin memuncak.

Sekedar info, kami berasal dari daerah yang berbeda, suku yang berbeda, agama yang berbeda, kampus dan jurusan yang berbeda hehe.. udah gitu doang wkwk…

Yaahh… kembali ke topik hehe..

Perjalanan pun kembali kami lanjutkan, rasa penasaran semakin besar dan kami mulai berteriak mencari adakah pendaki lain di sekitar sini karena semua telah tertutup kabut tebal. “woi.. ada orang disana?” ; “woi.. shelter 3 dimanaaaaa..?” ; “woi.. jawab kami.. woi”,  tak satupun teriakan jawaban yang kami dapatkan. Badan mulai lemah karena menggigil dan lapar. Jika berhenti lagi, maka kami akan semakin menggigil, perjalanan tetap kami lanjutkan. Tak terhitung berapa kali saya jatuh dan kepala menabrak pohon besar, semoga otak tetap pada posisi yang benar hahha… luar biasa memang petualangan kali ini. sempat juga cedera kecil di bagian lengan sebelah kanan saat memanjat dalam posisi yang kurang seimbang.


Kami berjalan lagi mengikuti jejak-jejak yang ada, meskipun pertanyaan “dimana shelter 3 nya” semakin berkecamuk didalam pikiran dan langkah kamipun sudah tak secepat sebelumnya. Hari semakin gelap seperti sudah mendekati maghrib padahal jam masih menunjukkan pukul 15.30 wib dan kami mulai lapaaaaaar.. haha

mie instan mentah pun menjadi cemilan paling enak saat itu, krenyes-krenyes. 1 kaleng bearbrand dan 1 kaleng susu kental manis untuk 7 orang.. luar biasa. meskipun kondisi udah seperti itu, bercanda dan gila-gilaan tetap berlanjut hahha..

Badai semakin kuat dan dingin membuat telapak tangan kami menjadi kaku dan mulai mati rasa. Kami berusaha untuk tidak terkena hipo di ketinggian, di jalur ini tidak ada sedikit pun space untuk bisa beristirahat dan mendirikan tenda. Benar benar sempit.

Setengah jam kemudian, kami mencoba lagi untuk berteriak dengan sisa sisa tenaga yang ada, “woi.. shelter 3 dimana….?”  masih belum ada sahutan. Kami coba berkali-kali akhirnya ada teriakan yang menyahut teriakan kami  “disini.. jalan terus… udah dekat.. semangat” lega rasanya mendengar ada manusia disana… hahha…. udah ada tanda-tanda kehidupan. Hihihihi….

Trek mendekati shelter 3 nggak ada pohon sama sekali, hanya ada tanaman-tanaman yang tingginya sampe betis (nggak tau nama tanaman itu apa). Perjuangan lagi untuk nyampe keatas, nggak ada pegangan bro… angin makin kencang ajeeee…. bisa tumbang abang deeeeekkkk….. hahahha. Melawan gejolak angin tu rasanyaa… ah sudahlah wkwkwk..

Pukul 14.30 wib, kami tiba di shelter 3. Tanahnya udah jadi bubur cokelat ternyata, bingung mau nge camp dimana.

Akhirnya kami putuskan untuk buat 2 tenda di bawah plat shelter 3. Banyak space yang udah di borong sama pendaki lain soalnya dan mendirikan tenda dalam keadaan badai itu nggak segampang bernapas. Badan udah gemetar, gigi atas dan gigi bawah rasanya mau berantem.

Setelah semuanya selasai, kami mulai merapikan interior tenda (ini kerjaan saya sama mia). Memasak, makan, dan menghangatkan badan walapupun nggak ada hangat-hangatnya sedikitpun hahah…

Badai semakin mengamuk, pancang tendapun mulai nggak kuat di tanah berlumpur itu. 1 tenda telah tumbang dan bisa dikatakan kondisinya ngeneeeessss… akhirnya kami bergabung didalam 1 tenda dan duduk memandang wajah satu sama lain. Bercerita dan bercanda sepuasnya. Kentut sepuasnya hahah… naluri untuk saling mengejek pun keluar, tertawa dan berbicara sekuat-kuatnya layaknya dunia ini milik bertujuh. momen ini memang tak terlupakan. Pantas aja petualangan itu nggak ternilai harganya.

Pagi minggu pukul 07.00 wib, badai masih belum berlalu..  kami keluar tenda dan bercengkrama dengan pendaki lain walaupun geraham terasa gemetar. Pukul 09.30 kami melalakukan perjalanan menuju puncak dengan menempuh waktu selama 22 menit. Di puncak, danau toba dan view lainya tertutup oleh kabut tebal. Nggak ada rasa kecewa sedikitpun. Itu adalah pertanda bahwa kami harus kembali lagi ke hutan ini.

Pukul 10.00 wib, kami putuskan untuk turun ke bawah. Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan flora gunung sibuatan. Anggrek, rotan, lumut dan lain-lain. Perjalanan turun lebih santai karena kami udah tau rutenya. Pukul 16.30 kami tiba di lereng. Bersih-bersih badan di sungai yang mengalir deras. walaupun sepasang kaos kaki saya hanyut terbawa arus. setelah semua beres, kami pulang ke Medan.

Terimakasih alam sibuatan

Terimakasih teman-teman

0005.JG-2014-2019 – Kuwanlelenta Taci Angeni

Comments are closed.