Gunung

Merbabu (aku merasa kaya)

Merbabu (aku merasa kaya)

Setelah 15 tahun berselang, kerinduanku semakin kuat memuncak ke merbabu, rumah segala tumpah ruah, rindu dendam dan kepedihan hati kala itu. Racun yang ditebarkan kawan kawan Pendaki Gunung Indonesia korwil Semarang pun semkin kuat. Mereka mengadakan Pendakian Paseduluran 2 ke Merbabu 20-21 september 2014. Ya, terakhir aku menginjak merbabu September 1999. Moment yang pas. 

tgl 19 September aku putuskan berangkat dengan kereta api Kaligung via stasiun Tegal ke Semarang. Dan di Semarang telah menunggu di bc PGI, dua akhiceta Jungle Ghost Bogor, Andri ‘ Pontiac ” Maula Daisuki dan Comenk “Geronimo” Noeaink. Tertarik juga rupanya mereka dan ingin bersilaturahmi dengan kawan kawan Semarang.pukul 19.30 sampai di Semarang Poncol, saya dan Winona dijemput lngsung oleh ketua PGI korwil Semarang , Eko Puji dan si kriwil Tremo Uyee. Langsung menuju basecamp di daerah Tembalang, sekitar kampus Universitas Diponegoro. Tepat di depan Politeknik Semarang sepeda Tremo Uyee yang saya tumpangi mengalami bocor ban, wahhh, jadi merasa tidak enak saya sama Tremo, apa saya terlalu gendut ya,,hoho.. bantuan datang, mas Edi Yono dtatnag menawarkan diri,dan melaju  ke bc dengan Edi Yono. Tremo mengganti ban terlebih dahulu.

di base camp sudah rame, Andri , Comenk, ,Jonggring dan yg lain sudh berkumpul. Setelah beristirahat sebentar, kami putuskan untuk berkeliling Semarang. Menikmati ikon ikon Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu dan Gereja Blendhuk. Ada bahan bully saat saya mengikuti Edi Yono berputar putar mencari gereja Blendhuk. Edi membonceng Andri. Saya kejar Edi karena rombongan kawan kawan sudah hilang dari pandangan. Pas saya tanya, ” Ed, kamu tahu arah Gereja Blendhuk? “. Edi jawab ” gak tahu om…” .. hahaha.. kirain tahu,Edi khan orang Semarang..
Setelah bertanya pada penduduk lokal kami bisa temukan gereja Blendhuk dan kawan kawan.

Puas berkeliling kami menikmati angkringan Pak Edi yag terkenal. waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Baru menjelang subuh kami pulang ke base camp kembali. Beristirahat.

Selepas sarapan pagi kami berangkat menuju Lapangan Kalisari, meeting point seluruh peserta Pendakian Paseduluran 2 PGI Korwil Semarang

September20, 2014, pukul 12.00 kami sampai di lapangan Garnisun Kalisari Semarang. Tempat meeting point para pendaki yang mengikuti Pendakian Paseduluran 2 PGI korwil Semarang. Kami berempat perwakilan Jungle Ghost. Banyak elemen yang mengikuti pendakian ini.
Sambil menunggu truk yang akan mengangkut sampai Kedakan Wekas, Winona, Andri, Comenk belanja di pasar terdekat, Pasar Bulu diantar Harlie.

Namun ternyata truk yang dijadwalkan datang jam 12.30 molor sampai jam 15.15, walhasil pemberangkatan mengalami kemunduran dan baru berangkat selepas Asar,pukul 16.00.
Lebih dari 30 orang masuk dalam truk terbuka bersama tas Carriernya yang besar besar. Dan inilah kebersamaan yang sesungguhnya. Bersama terombang ambing dalam truk selama 3 jam. Berdiri, kaki terasa lelah namun semua terkalahkan oleh rasa gembira.
Celoteh canda tawa ramai terurai. Betul jargon pendakian kali ini. Tidak usah menunggu kaya untuk menambah saudara. Saya merasa kaya dengan hal seperti ini. Bertemu saudara baru, akrab saling bercanda dalam situasi sulit seperti apa pun.Lagi lagi saya berada di depan, sehingga saat truk mengerem mendadak, kawan kawan belakang langsung menghimpit badan tambun ini. Dan lagi lagi, berdekatan dengan Edi Tak Tahu,, hahaha (baca tulisan satu). Sibuk dia merespon pantauan melalui HT, sesekali melempar cubitan dengan ibu guru N Aprillia 😉 .Truk melewati Gunungpati, Ungaran menuju Salatiga dan berbelok di Kopeng  menuju Wekas. Pukul 18.00, sampai juga di Kampung Kedakan, basecamp jalur Wekas. Kami segera melapor di bc Mitra Indah di bawah pengampuan Grabupal.
Setelah istirahat dan menunaikan shalat Magrib tepat pukul 19.30,kami memulai perjalanan pulang ini. Saya dan kawan kawan Jungle Ghost masuk dalam kelompok 4 berdasarkan pembagian panitia. Leader Bisri Mustofa dari Salatiga dan sweaper, lagi lagi, Edi Tak Tahu. hahaha.. asyikkkk.
Jalan berpaving menanjak segera kami tempuh, menanjak melewati kebun sayur, peluh segera mengucur di malam yang dingin. Bahkan sebelum sampai makam, sudah ada yang kram, saudara kami ketua PGI korwil Semarang, Eko Puji Martanto.
Selepas Makam, kami menempuh jalan tanah, dan inilah tantangan yang sesungguhnya. jalur berdebu sangat. Segera kami memasang syal kebanggan dan buuf untuk menjadi masker pelindung.Langkah demi langkah kami tempuh. Jalur yang terus menanjak, setelah dua jam sampailah kami pada sedikit tanah datar, Pos Satu Tlaga Arum.
Tidak banyak membuang waktu kami terus melanjutkan perjalanan, Winona cukup tangguh melahap jalur, susul menyusul antar kelompok kerap terjadi. Leader kami cukup mumpuni mengkoordinasikan semua anggota. Sesekali kami berhenti dan bercanda. Zaf si kriwil kembaran Tremo jadi bahan candaan yang renyah.hihi, keren di turunan, jelek di tanjakan.Malam semakin menua, dingin mulai menusuk kulit. Pukul 00.00 kami sampai di Pos 2, pos di mana kami harus mendirikan tenda untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan selepas subuh nanti. Segera kami mendirikan tenda. Winona masak Udang dan Andri menanak nasi, saat selesai makan langsung kami tidur untuk pemulihan. Comenk dan Andri tampak asyik bersleepingbag ria di bivak Teepee Indian yang baru bisa mereka dirikan. Mungkin saat itulah dalam sejarah pendakian mereka betul betul pertama kali mendirikan bivak ala Indian. Howghhh !

Pukul 04.30 kami terbangun dengan teriakan teriakan penghuni camp Pos 2. Aha, rupanya pemberangkatan menuju summit Merbabu sudah di mulai. Dan sayup sayup saya mendengar nama saya disebut melalui megaphone, suara Rur Mbiyink. Mengabarkan kalo saudara dari Jogja sudah tiba , mas Anton Suteja. Gembiranya hati, segera saya lempar SB pembungkus, membangunkan Winona , Andri dan Chomenk untuk bersiap siap summit. Keluar dari tenda sudah ada mas anton yang langsung berjabat tangan dan memeluk hangat.
Tanpa membuang waktu banyak setelah mempersiapkan logistik ,kami langsung berangkat. Udara masih dingin menusuk, tapi hati kami sudah hangat. Jalan yang masih berdebu tak kami hiraukan. Di tengah perjalanan menuju pos Watu Tulis, chomenk meminjam pisau, aha .. mau pups rupanya. haha…
Satu jam berlalu, sampailahkami di Pos Watu Tulis, di sini kami bisa melihat kawah mati, puncak Pemancar sebelah kiri, dan pos Helipad sebelah kangan yang merupakan pertemuan jalur chuntel dan thekelan dengan Wekas. Setelah melewati jalan berbau belerang yang menyengat, sampailah kami di Pos Helipad. Kami memutuskan membuka perbekalan dan sarapan. Sebentar saja, roti tawar berlapis mayonaise dan beef burger yang berpadu dengan selada dan saos kami lalap habis. Segarnya. Kopi tak lupa kami sruput menghangatkan tubuh.
Mentari mulai terik saat kami meninggalkan Pos Helipad menuju Puncak GegerSapi. disini mulai ujian mental menghantam kami. Jalur terjal, berdebu dan rapuh serta terik matahari yang menyengat sementara angin bertiup kencang. Rasanya muka ini seperti disayat sayat. Perih.Pukul 10,00 kami ada di Puncak Geger sapi.
Perjalanan dilanjutkan dengan menurun yang langsung disambung tanjakan terjal kembali. Debu terus berhamburan. Sampailah kami di sebuah puncak yang Winona kira adalah puncaknya. Setelah sampai, mata kami terbelalak, ada turunan dan satu perbukitan terjal yang bisa kami lihat. Juga jalur lingkar kiri yang melintasi jurang. Woww.. tempat yang kami pijak ini bila ke kiri tampak menjulang Puncak Sarip dan menurun kemudian melintas jalan setapak yang ngeri abis. jembatan Setan. Seketika Winona pucat. Masih satu jam lagi perjalanan, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00.
Waktu yang tak lazim bagi kru Jungle Ghost melakaukan perjalanan. Kami terbiasa melakukan perjalanan malam. Maklum para Hantu.Dan ternyata Winona saat di Pos 2 terkena giliran fisiologis wanita. Hmm.. kasihan. Tapi tekadnya sudah bulat.
Segera kami menurun dan melalui jurang yang terhampar itu, melipir dan berhati hati saat berpapasan. Jalur di depan semakin terjal dan ada tanjakan yang harus membuat kamai ekstra waspada. 85 derajat dengan berjalan menyamping. Ujian terakhir untuk mencapai Puncak Kenteng Songo. Puncak yang kami kejar.
Akhirnya. pukul 11.45,kami menjejak Kenteng Songo. Indahnya, kami bisa melihat Merapi, Sindoro, Sumbing, Andong, Ungaran dari Kenteng Songo. Juga ada batu lumpang yang terkenal yang konon buatan Mbah Sarip.
Mentari terik sangat. Muka kami terbakar. dan Comenk tampak Mehong..hihi.. Mukanya belepotan debu.
Kami bertakbir dan mengucapkan syukur alhamdulilah. segera mengambil dokumentasi dan bergaya Indian pastinya, karena kami Jungle Ghost. Winona serasi dengan dua kostumnya, Comenk gagah dengan celana Indian baru, serta Andri yang lentik merentang tali busur . Kalo saya tidak usah ditanya, gagah adalah pembawaan dari lahir. hihi.
Uppss hampir mas anton Suteja kena panah Andri. Hehe
Pukul 13.00,kami memutuskan turun. Pada saat turun inilah ujian kembali menghantam. Sebelum Pos Helipad kami kehabisan air. Namun teringat di bawah watu Tulis sebelum Pos 2 ada mata air dari pipa yang terpotong. Tertatih tatih kami berusaha mencapai mata air itu. Andri rupanya mengalami kram otot. Perjalanan melambat. Pukul 15,30,kami baru sampai Pos 2.
Untuk selanjutnya membereskan tenda untuk turun kembali ke base camp.
Pukul 19.00 kami baru sampai basecamp, di perjalanan kami bisa melihata proses evakuasi kawan Jonggring yang cederanya kambuh.
Tapi alhamdulilah semua teratasi.
pukul 20.00 kami beserta rombongan PGI korwil semarang pulang ke Semarang dengan truk yang sama.
saya lambaikan tangan dan kecup jauh untuk Merbabu
” Aku pulaaangggg
tanpa dendammm
ku terima kekalahanku
Kau berikan aku bahagia
kau berikan aku derita
kau tunjukkan aku bahagia
kau tunjukkan aku deritaaa
Aku Pulanggggg “
Merbabu 15 tahun yang lalu dan sekarang jauh berbeda, tapi sama di hatiku.
0001.JG-2014-2019 – Hiawatha Onondaga 

Comments are closed.