Pulang Ke Galunggung

Pulang Ke Galunggung

Pulang ke Galunggung. Itulah yang terbetik dalam pemikiranku saat memutuskan untuk memperingati Upacara Kemerdekaan RI yang ke 69 kali ini. Jungle Ghost, suatu Komunitas Pendaki Gunung dan Penempuh rimba dengan ciri khas Native Indian dalam kegiatannya harus ikut serta dalam menanamkan nasionalisme bangsa ini. Keputusan Jungle Ghost ialah membebaskan seluruh anggotanya untuk ikut serta dengan komunitas lain dalam menyelenggarakan acara ini.

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 m di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya Berlokasi di Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Setelah terakhir meletus pada Tahun 1982, Panorama alam di sekitar Gunung Galunggung saat ini sangat mempesona. Kawah yang dulu memuntahkan lahar panas, pasir dan bebatuan, kini telah berwujud menjadi semacam danau luas, bening, berair dan tenang serta dikelilingi hutan hijau yang asri Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain: obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektar dibawah pengelolaan Perum Perhutani, berupa air terjun dan kawah.

Pengunjung diijinkan mengunjungi kawah Galunggung, dan dapat mencapai kawah dengan meniti tangga permanen dengan jumlah anak tangga sebanyak 620 buah. dan kawah ini bisa dijadikan tempat wisata rekreasi air dan tempat pemancingan.
Obyek wisata lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air serta tersedia juga tempat bermain anak, panggung hiburan, saung ranggon tempat botram (makan-makan), kios wisata, juga arena camping. Untuk menuju kawasan Galunggung, terdapat tiga alternatif jalan yang dapat ditempuh, yaitu :

Dari arah Bandung lewat Ciawi, di depan Pasar lama Indihiang, belok ke arah kanan + 12 km.
Dari arah Bandung lewat Ciawi, setelah jembatan Cikunir (Singaparna) belok ke arah kiri + 14 km
Dari pusat kota Tasikmalaya langsung ke arah Barat lewat Jl. Bantar-Tawangbanteng, + 17 km 9 ( sumber Disbudpar Tasikmalaya )
Berdua kami berangkat dari Oboz pusat Onondaga di Brebes, pukul 15.00, saya Hiawatha Beben Lesmana dan Winona Noor Hasanah ( squaw sekaligus istri). meluncur menuju Cirebon menjemput Chippewa Nur Fajar dan squaw Yuli Andriyani ( Macawi Chappa). Di perjalanan kami memberikan tumpangan pada seorang pendaki yang akan mendaki gunung Ciremai.
Sempat mampir di rekan yang ada di Cikijing dan makan sore. Terima kasih keluarga besar Eneng fatuh dan Abah OO.

Pukul 21.00,kami sampai di Tasikmalaya, langsung meluncur ke Indihiang, perumahan Sirna Galih, menuju Mabes Komunitas Pendaki Gunung Balad Soekarno. yang dipimpin oleh komandan Akuh Soekarno Muda II . Sambutan yang hangat diberikan oleh beliau langsung. Selang satu jam kemudian rombongan Jungle Ghost dari Bogor merapat 4 orang ( Andri, Defan, Comenk dan Add Classic). Kami bermalam di sini sekaligus teknikal meeting mengenai acara di kawah Galunggung besoknya.
Komunitas Pendaki Gunung Balad Soekarno adalah suatu wadah para penyuka petualangan pendakian gunung gunung Indonesia. Organisasi ini belum genap 5 tahun tapi sudah memiliki puluhan ribu member di group facebook dan ribuan anggota yang sudah teregistrasdengan rapi dan aktif memberikan kontribusi kegiatan seputar pendakian gunung.

Bisa berkenalan dengan komunitas ini adalah berkah dan hal yang menyenangkan. Mudah mudahan silaturahmi Jungle Ghost dan KPGBS akan terus terjalin dan bermanfaat. Bagi kawan kawan Jungle Ghost yang menghendaki ke Galunngung, silahkan berkunjung ke Mabes KPGBS, Perumahan Sirna Galih nomor 42 Indihiang Tasikmalaya.

Pukul 09.00 pagi tanggal 16 Agustus 2014, kami Jungle Ghost telah siap. Sarapan pagi dengan nasi timbel bekal akhiceta Bogor dan pepes ikan dari Bunda Oce. yummyyy..hehee. selepas sarapan,packing perlengkapan. pukul 10.00 kami berpamitan kepada Bunda Oce, menitipkan salam buat Komandan Akuh Soekarno Muda II.

Tim memutuskan untuk ke pasar terlebih dahulu, guna membeli logistik untuk bermalam di kawah Galunggung. Kebiasaan Jungle Ghost dalam perjalanan pulang / pendakian gunung ialah tidak tergantung pada sesuatu yang instan. Akhiceta dan squaw Jungle Ghost rata rata pandai berburu dan memasak. Ini yang menyebabkan pulang bersama mereka menjadi sesuatu yang selalu bermakna. Kemana pun jalan pulang.

Akhirnya kami menemukan sebuah pasar yang sejalur dengan arah kami ke Galunggung, yaitu pasar Cikurubuk. Pasar ini agak lengang. kami leluasa berbelanja. Senang berburu bersama mereka. Indianie dotarly do palawania. heee..
Sayuran hijau, beras wangi, bandrek,kopi. Kami memutuskan akan memasak cumi asam manis. Untuk buah salak,jeruk sebagai penetral dan labu.
Khusus tentang labu akan saya bahas dalam tulisan ketiga. Sedikit menyebalkan tentang labu ini, ;).

Selagi asyik berbelanja, mata elang kami menangkap satu p[emandangan tidak lazim. di suatu sudut pasar, di antara tumpukan sampah tampak seorang nenek tua mengais ngais bekas sampah. Pasar Cikurubuk adalah pasar buah dan sayur. Jadi sampah sisanya pun buah buahan dan sayuran yang membusuk atau sudah tidak layak.
Nenek tua itu mengorek ngorek buah nangka yang busuk. Sesekali memperoleh beton atau biji nangka dan memasukannya ke plastik. terlihat oleh kami juga beliau mendapatkan bawang merah kecil yang ikut terbuat bersama kulitnya.

Sontak kami mendekati dan bertanya, timbul keinginan untuk berbagi. Kami memperkenalkan diri, ternyata beliau bernama Mak Epon, asal Sukalaya. Kami berbagi sedikit dari rejeki kami untuk beliau. Kami tahu beliau tidak meminta. Tidak juga kami menganggap beliau seorang pengemis. Tapi kami hanya ingin berbagi dengan beliau. seorang renta yang berusaha tetap bertahan hidup di dunia yang tak lagi ramah.
Mata beliau berkaca kaca, beliau mau menerima pemberian kami, Kalimat doa meluncur begitu derasnya. Ada sejuk dalam hati kami, semua akhiceta dan squaw Jungle Ghost.

Sampai kami menaiki mobil dan berlalu , beliau masih memandang dan mengangkat tangannya. Menatap tajam ke langit dan berkomat kamit. entah doa apa yang beliau panjatkan, kami yakin itu untuk kebaikan kami. Indahnya berbagi,

“Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Perbanyaklah SEDEKAH, karena di dalamnya terdapat Khasiat :
• Menyembuhkan berbagai macam penyakit
• Melapangkan rezeki
• Menjauhkan dari segala macam kesulitan hidup
• Menenangkan hati dan jiwa

”… ada yang memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian; dia menanti nanti mara bahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa mara bahaya. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS At Taubah, 9: 98)
Sesungguhnya, infak dan sedekah akan menghindarkan kita dari kerugian, bencana, kesusahan, dan marabahaya. Sedekah akan mampu mengubah takdir buruk seseorang menjadi takdir baik.

Selepas belanja dan sedikit berbagi dengan Emak Epon, kami meneruskan perjalanan ke Galunggung, melalui Bantarsari, sepanjang perjalanan hamparan sawah hijau terhampar. Indah nian jalan yang berkelok kelok di Tasikmalaya ini. Tidak sampai satu jam kami sudah tiba di Pos 1 Galunggung. Retribusinya tidak mahal kok, Rp. 5000 perorang.

Kami memutuskan untuk beristirahat dulu di Pemandian Air Panas, dari Pos Pintu Satu langsung mengambil jalan ke kanan yang menurun, arah lurus menanjak akan menuju Pos 2 dan Pos 3 Tangga Galunggung.

Area parkir yang luas, dan pusat oleh oleh Galunggung ternyata ada disini. Saya sempat tertarik dengan Kujang, pisau cengkok khas Tasikmalaya / Jawa Barat, tapi di sini ternyata mahal harganya sekitar Rp. 150.000. Pemandian air panas ini ramai dikunjungi warga sekitar setiap harinya. Apalagi saat weekend, dari luar Tasikmalaya banyak yang berendam dengan banyak tujuan.

Masih banyak monyet liar di area pemandian ini, tapi mereka jinak dan tidak mengganggu wisatawan. Tidak lupa, kami menunaikan ibadah sholat Dhuhur di mushola yang cukup besar. Beriistirahat sejenak, minum kopi dan becanda di rest area yang memang tersedia dalam bentuk pendopo pendopo kecil. Kang Add Classic menikmati minum Aren dan Defan membeli pisang Ranggap yang unik. Pisang ini ukurannya luar biasa. Konon hanya ada di Tasikmalaya. Sempat muncul becandaan tentang mitos obat kuat tentang pisang ini. Andri mengatakan pisang adalah obat kuat apabila diminum dengan salah satu minuman isotonik tertentu. Pokoknya don’t try this at home, hanya sekedar canda saja. J.. Sementara istri saya sebagaimana umumnya ibu rumah tangga cukup membeli beberapa kaos buat anak anak di rumah.

Pukul 14.30 ,kami memutuskan melanjutkan perjalanan, mobil pun meluncur kembali ke Pos 1,dan langsung mengambil arah ke kanan. Tanjakan terjal dimulai dari sini, akan ada sekitar 5 tanjakan yang mengharuskan sopir menggunakan perseneling satu. Setengah jam dari sini akan menemui Pos 2, membayar parkir mobil seharga Rp. 5.000, selintas kami melihat ada dua cabang jalan, ternyata yang ke kiri adalah jalur pengaliran material kawah. Pemerintah Tasikmalaya memang membangun terowongan untuk mengantisipasi Galunggung kembali aktif. Kami mengambil arah ke kanan, dan seperempat jam kemudian setelah menanjak kami memasuki area parkir Pos 3 Tangga Galunggung.
Setelah menunaikan shalat Asar ,kami bersiap melakukan perjalanan. Sengaja kami tidak menggunakan tangga, kami berusaha mencapai puncak Galunggung melalui jalur yang masih alami samping pemancar, di atas mushola area parkir Pos 3 Galunggung.

Tas Carrier sudah diturunkan, mobil sudah dititipkan, pada saat itu Kang Add Classic teringat dengan buah Labu pemberian keluarga Abah OO waktu di Cikijing. Katanya enak bikin sop buah dari Labu. Pas saya turunkan dia bilang “ Kang Beben tolong periksa dulu Labunya, barangkali ada suara gemerincing.. Koclakeun heula(Goyangkan dulu..) “.. tanpa tanya ba bi bu, langsung saya goyang goyang deket telinga tuh labu sebesar itu. Kontan semua tertawa. Tinggal saya terbengong bengong. Setelah dijelaskan istri saya, baru saya sadar sudah dikerjain sama Add Classic. Asem..hahaha.. Dan saya lirik ke si bapak tukang warung.. dia juga tertawa.. hmmm… Alamat dua hari kedepan saya di bully dengan kata Koclakkkk…. 🙁
Selepas Asar kami bersiap , setelah berdoa bersama, kami mulai menapak jalan setapak yang rimbun pepohonan di atas mushola dekat pemancar area parkir Pos 3 Galunggung. Matahari masih terik. Perbekalan air tidak terlalu banyak yang kami bawa. Estimasi waktu yang pendek dan ketersediaan air yang melimpah di Galunggung tidak mengkhawatirkan kami.

Sepanjang jalur kita bisa melihat view yang indah dari bukit sekitar Galunggung, view kota Tasikmalaya yang indah. Jalur tidak begitu terjal, bahkan masih ada beberapa bonus yang landai.

Hampir satu jam berjalan kami bertemu dua percabangan, ke kiri agak terjal, jalur berpasir dan ke kanan landai. Kami memilih ke kiri, karena puncak sudah terlihat dari arah sini.

Napas sedikit memburu, bukan karena jalur, tapi usia yang mulai uzur dan one pack di perut yang tidak bisa dibohongi. heee…. Alhamdulilah, sampai di puncak Galunggung. Pemandangan disini lebih indah lagi. Dinding Galunggung yang tidak pernah terjamah tampak menjulang dan berkabut. nuansa indah dan misterius merasuki suasana disini.

Kami memutuskan istirahat disini untuk mengambil gambar. Lokasi bermalam bukan disini, tapi harus turun ke kawah. Saat istirahat ini lah moment yang sangat menyenangkan. Bercanda menertawai kekonyolan yang ada dalam perjalanan, sesekali kalimat Koclak itu muncul lagi.. :)..

Setengah jam kami rasa cukup untuk beristirahat, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Saatnya menuruni kawah dan mendirikan tenda disana. sebelum gelap tiba. Sepanjang jalur tak henti kalimat tasbih dan takbir kami ucapkan. Indahnya kawah Galunggung. Dibalik potensi mengerikannya tersimpan keindahan yang eksotis. Betul kata para pendaki senior, ketinggian bisa menipu. Galunggung memang bisa ditempuh dalam waktu yang singkat. tidak ada kesulitan yang berarti, tapi keindahannya luar biasa. datanglah kawan kesini, ke miniatur Rinjani, Galunggung.

Magrib,tenda sudah berdiri, angin bertiup agak kencang, pendirian tenda kami agak bermasalah, ternyata kami mendirikan tenda ditempat pertemuan angin lembah. Kawah Galunggung memang seperti alun alun Surya Kencana, peserta lain banyak yang mendirikan di sisi timur dan barat, sementara kami menempati tengah tengah lembah. selepas pukul 21.00 baru kami sadari, hanya kami sendiri yang menempati are ini. Sedikit was was. Kami hanya bersiap menantikan kemungkinan yang terjadi.

Malam semakin larut, gelas kopi terus berputar. Celotehan dan tawa terus bergulir. Makan malam langsung tandas. Cumi asam manis dan pecel khas Jawa Timuran bersih tak tersisa.

Comenk, Defan, Add Classic , Andri, Nur Fajar dan saya memang berjodoh. Dimanapun berada, rumah, perjalanan, hajatan, bahkan pendakian selalu diisi dengan tertawa. Tinggal kaum hawa yang melihat kami sebentar sebentar tersenyum simpul. Namun , cuaca malam itu kurang bersahabat, Hujan turun keroyokan,, alhasil ada sedikit banjir dalam tenda masing masing karena posisi flysheet yang dijadikan beranda setiap ujungnya menempel pada tiga tenda yang membentuk hurup U. Tumpahan ujung flysheet merembes pada masing masing tenda.

Untung Defan sigap dan membebaskan ujung flysheet dari tenda. kami tertidur tanpa tahu siapa yang terakhir bicara. Namun saya yakin , Andri yang terakhir bicara sendirian karena yang lain sudah tertidur atau mungkin Nur Fajar yang terbangun dan melihat air danau mencari peruntungan nasib. 🙂

Pagi datang, cerah, tapi kami tidak bisa melihat sunrise. Karena untuk melihat sunrise kami harus menaiki kawah lagi. Sepagi itu kami kedatangan tamu istimewa, Bapak Gusmara Tomtom, senior di KPGBS. Menyenangkan.
Pukul 09.30, tanpa sempat sarapan kami ikut Upacara Kemerdekaan RI. khidmat dan tenang. Seragam Indian kami begitu mencolok. Kami memang penyuka native Indian, tapi jiwa kami Indonesia sejati. Merinding mendengar suara Indonesia Raya dinyanyikan dan memantul dari dinding kawah. Jayalah Indonesiaku, Lestari Alam Indonesia.

Puas mengambil gambar, sarapan, kami bersiap beranjak dari kawah untuk kembali ke dunia ramai. Kembali berpisah dan meneruskan aktivitas masing masing.
Sampai jumpa di rumah berikutnya. Terima kasih komandan KPGBS, bapak Akuh Soekarno Moeda II, Bapak Gusmara Tomtom, Bunda Oce Lia Komalasari, Abang Agus N’ Cho, Bang Putra Galunggung,Bang Hendra Jaya Wijaya, Melinda ” Meong” Permatasari, Ari Rahman, dll yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Sampai jumpa lagi di ketinggian berikutnya.

0001.JG-2014-2019 – Hiawatha Onondaga

Yani

“I was not born for one corner. The whole world is my native land” - Seneca -