Budaya

Sepenggal Cerita Explorer dari Timor

Sepenggal Cerita Explorer dari Timor

Siapa yang tidak mengenal Alfred Russel Wallace?

Wallace adalah seorang naturalis, penjelajah, geographer, antropolog dan ahli biologi Inggris yang banyak dihubungkan dengan Charles Darwin. Siapa sangka ia pernah hampir tenggelam dalam sebuah ekspedisi ke Pulau Semau di depan teluk Kupang, NTT.

Walaupun mungkin tak seterkenal Charles Darwin, Alfred Russel Wallace tak mungkin diabaikan dalam pembicaraan tentang evolusi. Wallace lebih dikenal sebagai yang secara independen menemukan theory evolusi melalui seleksi alam.

ia memang kurang dikenal dibanding Darwin.
ia lebih banyak melakukan penelitian lapangan.

Penelitian lapangannya yang pertama adalah di sungai Amazon dan kemudian di kepulauan Malay (yang sekarang adalah Indonesia dan Malaysia) yang kemudian menghasilkan buku The Malay Archipelago. Dalam penelitian di kepulauan Nusantara ini ia mengidentifikasi pembagian fauna yang sekarang disebut Garis Wallace, yaitu garis yang membagi kepulauan Nusantara menjadi dua bagian: bagian barat dimana binatang-binatang umumnya berasal dari Asia, dan bagian timur dimana faunanya mencerminkan fauna Australasia.

Dari Malay Archipelago inilah Wallace menulis suratnya yang terkenal kepada Charles Darwin, yang mengandung sebuah essay yang menggambarkan theory yang sangat mirip dengan theory seleksi alamnya Darwin. Menurut legenda, ide ini muncul di kepala Wallace sangat ia terkena sebuah demam tropis.

Pria yang lahir di Llanbadoc, Inggris Raya pada 8 Januari 1823 ini dianggap sebagai ahli terkemuka abad 19 dalam persebaran geografis species binatang dan sering juga disebut sebagai “bapak biogeografi”. Bahkan nama Wallace dikenakan kepada ratusan tumbuhan dan binatang. Salah satu serangga dari Timor yang dinamai kepada Wallace adalah Cryptocephalus wallacei. Serangga ini dikumpulkan oleh Wallace dari Timor.

Lalu apa hubungan Wallace dengan Oeasa di Pulau Semau, dan theory Evolusi? Buku klasiknya, The Malay Archipel, Wallace mengatakan ia pernah mengunjungi Timor dua kali. Semua cerita tentang Timor bisa dibaca dalam bab 13 dan 14 buku ini dan tersedia secara online di sini dan di sini. Kunjungan pertama adalah ketika ia baru berusia 34 tahun di tahun 1857. Dalam kunjungan pertama ini ia hanya tinggal sehari di Kupang (ditulis ‘Coupang’) yang disebutnya sebagai “kota Belanda utama di ujung barat pulau.” Dua tahun kemudian, setelah terbit buku yang dituliskan bersama Charles Darwin, Wallace kembali mengunjungi Kupang yaitu di bulan Mei 1859. Ia tinggal selama dua minggu di rumah seorang dokter pemerintah kolonial asal Jerman, Mr. Arndt.

Setelah beberapa kali melakukan pengamatan di sekitar kota Kupang, ia berkesimpulan bahwa tempat ini memiliki sedikit serangga dan burung sehingga ia memutuskan untuk beberapa hari pergi ke pulau Semau (ditulis “Semao) dimana ia mendengar bahwa ada hutan dan burung-burung yang tidak ditemukan di Kupang. Dengan sejumlah kesulitan ia akhirnya memperoleh sebuah perahu besar dengan pendayung untuk mengantar ke Pulau Semau yang disebutnya “menempuh jarak sejauh kira-kira dua puluh mil.

Sang bontanis mendapati Pulau Semau memiliki tanaman yang cukup banyak tetapi menurutnya sebagian besar berupa tanaman semak berduri dan bukan pepohonan hutan. Ia mengatakan di mana-mana terlihat wilayah yang sangat gersang dan kering karena musim panas yang berkepanjangan. Wallace mengatakan ia tinggal di kampung Oeassa yang terkenal karena mata air sabunnya. Ia mengatakan:

“Salah satu mata air ini berada di tengah desa, mengeluarkan gelembung-gelembung dari kerucut kecil lumpur dan menghasilkan busa ketika bahan-bahan berminyak dicuci di dalamnya. Mata air ini mengandung Alkali dan Yodium dalam jumlah banyak sehingga menghancurkan semua vegetasi yang ada di sekitarnya. Di dekat desa ada satu mata air paling indah yang aku pernah lihat. Mata air ini berupa beberapa kolam yang dihubungkan oleh saluran-saluran sempit. Kolam-kolam ini diberi pembatas dinding dan membentuk tempat mandi alami yang cantik. Airnya terasa segar dan jernih, dan kolam-kolam mata air ini dikelilingi oleh pohon-pohon banyan yang menjulang tinggi, membuat mata air tetap sejuk dan teduh, dan menambah keindahan pemandangan.
Wallace juga menyebutkan bahwa di Semau terdapat banyak kera berbibir kelinci (Macacus cynomolgus), yang ditemukan di seluruh pulau-pulau bagian barat kepulauan Malaya, dan menurutnya kera-kera ini telah terbiasa hidup berdekatan dengan penduduk yang sering menangkap mereka. Ia juga menyebutkan sejumlah rusa tetapi tidak diketahui secara pasti apakah rusa-rusa ini satu species dengan rusa-rusa di Jawa.

Wallace tinggal di Oeassa selama empat hari, namun ia tidak menemukan banyak serangga dan hanya mendapatkan sedikit burung baru. Setelah empat hari ia kembali ke Kupang untuk menunggu kapal uap pos selanjutnya. Dalam perjalanan ke Kupang ia hampir tenggelam:

“Perahu yang lebih menyerupai peti mati terisi penuh dengan barang-barangku, dengan sayuran, kelapa dan buah-buahan lainnya dengan tujuan pasar Kupang, dan ketika kami berada di tengah selat, kami mendapati sejumlah air telah masuk dalam perahu dan kami tidak memiliki alat untuk menguras air. Ini menyebabkan perahu mengapung lebih dalam di dalam air, dan kemudian kami mengaruhi laut dan para pendayung perahu yang sebelumnya mengatakan bahwa ini bukan masalah, kini menjadi khawatir dan memutar haluan kembali ke pantai Semao, yang belum terlalu jauh.

Keputusan untuk berbalik haluan itu telah menyelamatkan botanis terkenal ini. Jika perahu tidak berbalik ke Pulau Semau mungkin apa yang sekarang disebut Garis Wallace belum tentu dikenal. Wallace berkata:

“Dengan menyingkirkan beberapa barang, air bisa dikuras, tetapi menguras air tidak secepat air yang masuk, dan ketika kami mendekati pantai kami tidak menemukan apa-apa kecuali dinding batu vertikal yang dhantam gelombang terus menerus. Kami menyusuri dinding batu ini hingga kami menemukan sebuah teluk kecil. Kami mendorong perahu ke teluk, memperbaikinya di pantai dan kami menemukan sebuah lubang yang besar di dasar perahu yang secara temporer tersumbat dengan buah kelapa yang kini telah lepas. Jika kami berada di laut seperempat mil dari lepas pantai sebelum kami menemukan lubang tersebut, kami pastinya harus membuang seluruh barang, dan kami mungkin juga akan tenggelam dan mati.

Setelah perahu diperbaiki mereka mulai berlayar lagi. Namun kesulitan belum juga kunjung henti. Ketika mereka sampai setengah jalan perahu terperangkap di arus yang sangat kuat sehingga mereka hampir tenggelam untuk kedua kalinya.

“Ini membuatku bersumpah tidak akan pernah lagi bersedia melakukan perjalanan dengan perahu kecil dan menyedihkan semacam itu.

Selama hidupnya, Wallace telah beberapa kali selamat dari malapetaka. Pertama adalah dalam perjalanan pulang dari Amazon dimana kapal yang ia tumpangi terbakar. Kapal itu adalah kapal barang bernama Helen yang berlayar ke Inggris pada 12 Juli 1852. Sebelumnya Wallace sendiri telah dikabarkan hilang. Ia sebenarnya terserang demam yang sangat berat. Walau terkena depresi, kehilangan napsu makan dan energi, ia berhasil menyusuri sungai Amazon dan tiba di sebuah pelabuhan di Brazil bernama Para pada 2 Juli. Di sana ia tahu bahwa saudara laki-lakinya, Herbert, yang menemaninya dalam perjalanan e Amerika Latin, telah meninggal. Sepuluh hari kemudian ia menumpang kapal barang Helen ke Inggris namun pada tanggal 6 Agustus kapal itu terbakar di lautan. Semua koleksi Wallace terbakar padahal ia telah menghabiskan seluruh tabungannya untuk perjalanan ke Brazil. Untunglah ada dua sekoci yang menyelamatkan para penumpang dan awak kapal termasuk Albert Wallace. Setelah sepuluh hari sekoci yang mereka tumpangi terdampar di Bermuda, sekitar 200 mil dari tujuan mereka. Di sanalah para penumpang yang terdampar ini diselamatkan oleh Jordeson, sebuah kapal yang bermuatan kayu yang berangkat dari Kuba ke London. Kapal yang penuh syarat dengan muatan kayu mahoni ini rupanya menimbulkan kekhawatiran awak kapal dan menyebabkan mereka memberontak terhadap kapten Venables. Terjadi ketegangan di atas kapal dan sang kapten tidurpun ditemani kapak. Tapi akhirnya pada 1 Oktober kapal itu tiba di Deal di Kent.

Jadi rupanya keadaan hampir tenggelam di Pulau Semau ini bukanlah yang pertama kali bagi penjelajah seperti Albert Russel Wallace. Ia tidak ditakdirkan mati di Brazil, perairan Bermuda atau di lepas pantai Pulau Semau. Namun di pulau Semau inilah ia bersumpah tak akan naik perahu kecil lagi.

Setelah hampir tenggelam di perairan Pulau Semau, Wallace tiba kembali di Kupang. Namun kapal uap pos yang dinantikan untuk perjalanan selanjutnya tidak juga kunjung datang selama seminggu sehingga sang penjelajah ini menyibukkan diri mencari sebanyak mungkin burung yang sangat menarik. Di antara burung-burung yang ia peroleh, ia mendapatkan 15 species merpati dari genus berbeda, dan sebagian besar burung yang ia peroleh adalah burung khas wilayah Timor. Ia mendapatkan dua beo (Platycercus vulneratus) yang memiliki hubungan dengan dengan species Australia, dan satu jenis beo hijau dari genus Geoffroyus. Tropidorhynchus timorensis adalah burung yang segaduh burung Tropidorhynchus yang ia temukan di Lombok. Wallace mengakui bahwa burung Sphaecothera viridis, burung oriole hijau aneh, adalah penemuan terbaiknya.

Ada juga beberapa burung cantik lainnya seperti finches, warblers, dan flycatcher dan diantara mereka ia memperoleh Cyornis hyacinthina berwarna merah dan biru.

Namun Wallace juga tidak dapat mengenali diantara koleksinya species-species yang disebutkan oleh seorang penjelajah sebelumnya William Dampier. William Dampier adalah seorang pengelana Inggris yang lain yang dengan kapalnya Roebuck pernah mengunjungi Timor di tahun 1699. Pengalaman Dampier ditahun 1699 ini ditulsikan dalam sebuah buku berjudul: A voyage to New Holland: The English voyage of discovery to the South Seas in 1699. Kemungkinan Wallace telah membaca buku ini dan menurut pengamatannya, Dampier telah menemukan sejumlah burung kicauan kecil di Timor. Wallace mengutip Dampier yang mengatakan:

“Salah satu jenis burung kecil cantik dinamakan burung dering oleh orang-orangku karena burung ini memiliki enam nada, dan selalu mengulangi semua nadanya dua kali, bersusulan, dimulai dari nada tinggi dan nyaring dan berakhir dengan nada rendah. Burung ini kira-kira sebesar burung lark, memiliki paruh kecil, hitam dan runcing dan sayapnya berwarna biru; kepala dan dadanya berwarna merah, dan ada warna biru di sekitar leher.”

Wallace tiba di Dili (ia menyebutnya Delli), ibukota Portugis Timor pada 12 Januri 1861 dan diterima dengan ramah oleh Kapten Hart, orang Inggris yang telah lama tinggal di Dilli, yang berdagang hasil-hasil perkebunan dan menanam kopi di kaki perbukitan. Oleh Kapten Hart, ia diperkenalkan dengan Mr. Geach, seorang insinyur pertambangan yang telah dua tahun berusaha menemukan tembaga di Timor Portugis. Dari Dili inilah ia mengirimkan beberapa surat penting yang antara lain bisa di lihat di sini dan dalam satu satu suratnya terdapat sebuah catatan tentang Ornithology Timor dimana ia memaparkan pandangannya tentang warna binatang tropis.

Wallace memang seorang penulis yang produktif. Selama hidupnya ia menulis 22 buku besar dan sekurang-kurangnya 747 artikel. Buku yang terakhir terbit tahun 1905 berjudul ‘My Life’. Bibliografi online tentang Wallace sendiri berjumlah sekitar 750 entry. National University of Singapore mendedikasikan satu situs online untuk Wallace yang diberi judul: Wallace Online. Melihat banyaknya sumber online tentang Wallace artinya seharusnya kita tidak perlu terlalu susah mencari informasi tentang Alfred Russel Wallace yang hampir tenggelam di Pulau Semau.

di terbitkan oleh ; Satu Timor.com dan Indoliterasi, Jogyakarta, 2015

Comments are closed.