Laa Tahzan, Sinabung

Laa Tahzan, Sinabung

Selalu saja dimulai dengan ide bandel. Berawal dari masing-masing jiwa yang terpanggil oleh jeritan hati para pengungsi gunung sinabung Tanah Karo. Ya.. lagi lagi gunung kebanggaan kami itu erupsi. Lama sudah tak bersilaturahmi dengan hutan, cadas, puncak dan menikmati betapa anggun danau lau kawarnya. Keindahan itu sekarang telah tertutupi oleh kabut tebal dan abu vulkanik. Hijaunya telah putih. Bagaimana mungkin kami “JUNGLE GHOST” yang berada di wilayah Medan hanya bisa diam melihat semua keadaan ini, kami ingin melakukan sesuatu meskipun itu hal kecil.

Pada tanggal 20 Oktober 2014 malam, saya mulai menebar racun ke pikiran anak-anak jungle ghost medan untuk turut serta menjadi bagian dari manusia yang tidak sekedar mendaki gunung saja, melainkan berguna untuk orang lain. Yaah.. orang baik itu banyak, namun orang yang peduli itu sangat sedikit. Jangan sampai kita menjadi mahasiswa yang suka mendaki gunung tapi jiwa sosial kita di pertanyakan.. huh.. jangan-jangan pendaki selfie? Hahaha..

Dimulai dengan saya memposting sebuah pertanyaan yang mengajak di sosmed, komentar para Howgher pun sangat antusias yang intinya “JADIKAN”. Alhamdulillah yah hehe
Senang bukan kepalang selama 5 menit lalu mengerutkan kening dan mikir keras, kapan waktu yang tepat untuk kopdar dan membicarakan hal ini sementara dalam suasana ujian. Dari Universitas dan jurusan yang berbeda-beda sangat susah menyatukan waktunya. Mencoba beberapa kali untuk menetapkan hari untuk ngumpul tapi hasilnya tetap nihil, sempat kecewa. Malam harinya saya post ke grup lagi dengan pertanyaan singkat yang membutukan jawaban antara YA atau TIDAK “penggalangan dana ini kita jadikan atau tidak?”. Komentar langsung banjir dengan jawaban “ya jadikan”. Bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan ini kalau semuanya tidak bergerak. Hari untuk kopdar dan penggalangan dana pun telah di tentukan namun gak ada hasilnya, Lagi-lagi di undur dan nggak jelas (ditambah dengan beberapa orang-orang sekitar yang bersikap sok peduli tapi nggak mau ngapa-ngapain) Hampir pesimis namun niat untuk berbagi masih belum mati.

Malas menunggu, saya mulai menebar racun itu lagi kepada teman-teman studio Arsitektur USU untuk mau berpartisipasi dengan kegiatan ini. Alhamdulillah.. antusias mereka sangat luar biasa walaupun di tengah deadline yang membara hahaha. Dalam 1 hari itupun, dana terkumpul sebesar Rp. 520.000, terimakasih banyak hehehhe

Minggu, 26 oktober 2014
Setelah sibuk mengatur waktu akhirnya pada hari minggu kami melakukan kopdar di Kampus UMSU dan langsung turun ke jalan setelah zuhur (Simpang Glugur – Medan) untuk melakukan aksi penggalangan dana. Panas mataharinya bukan main Howghher !!! hehhe dan inilah beberapa foto para Howghher yang luar biasa saat beraksi di jalanan Medan.

Alhamdulillah.. berkat semangat dan kerjasama, dana pun terkumpul sebesar Rp. 817.900, aksi untuk hari minggu selesai. Kami kembali lagi ke UMSU membicarakan kegiatan selanjutnya. Syukur tak terhingga 2 organisasi yaitu HMJ dan IMM FAPERTA UMSU mau bekerjasama dengan Jungle Ghost. Hari selanjutnya penggalangan dana tetap berlanjut dengan lokasi penggalangan dana di wilayah kampus masing-masing.
Akhirnya, setelah beberapa hari bekerja keras mencari dana, terkumpullah Rp. 2.383.400,-

Kamis, 30 Oktober 2014

Pada hari ini, kami sudah tidak lagi melakukan penggalangan dana melainkan fokus untuk memikirkan kegiatan yang akan di lakukan di posko pengungsian nantinya. Target adalah Anak-anak pengungsi gunung sinabung.
Pada malam harinya pukul 20.00 – 22.00 wib, kami melakukan kopdar terakhir di taman birorektor pintu 2 USU. Beberapa diantara kami melakukan komunikasi dengan beberapa kordinator posko yang mengatakan bahwa anak-anak disana sangat membutuhkan hiburan, mainan, snack dll maka kami memutuskan untuk melakukan trauma healing serta membawakan snack untuk mereka.
Selain itu, kabar gembira juga bahwa sebelum keberangkatan menuju posko nantinya akan ada penyematan slayer oleh saya atas izin dari om Beben Lesmana selaku ketua/sirah suku Jungle Ghost.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pagi pukul 10.00 wib, dana yang telah terkumpul kami belanjakan untuk membeli snack (susu kotak dan snack lainnya) di salah satu grosir Setiabudi Medan. Teman-teman yang lain sedang mengikuti ujian dan sebagian ada yang sedang kuliah. Oke fix !!! saya dan 1 orang teman yang belanja. Capek keliling-keling cari grosir yang pas, akhirnya ketemu juga. Semua barang yang dibutuhkan sudah didepan mata sekarang tinggal memikirkan cara membawa barang sebanyak ini sampai ke kost. Naik angkot (angkutan Umum) nggak mungkin, terpaksa cari becak hahaha
Akhirnya, setelah dicari.. becak yang mau angkut barang ini pun datang dan kaget lalu ngomong dengan khas bicaranya orang medan..

“bah !!! banyak kali belanjaan kelen dek !!!! cemanalah bisa ku bawak itu ditambah kelen berdua lagi nanti yang masuk ke becakku !!!!

“Jadi cemanalah bang? Apa perlu kami carikan becak satu lagi?”

“ini untuk apa rupanya !!! kok banyak kali !!!” (bang becak)

“untuk sumbangan ke pengungsi sinabung bang”

“oohh !!! yodahlah.. biar ku bawakkan aja !!! ongkos 15 ribu !!! naeklah kelen dulu” (bang becak)

Setelah duduk sengsara didalam becak, semua barang belanjaan itupun di tumpuk habis dipangkuan kami dan di paksa muat semua kedalam becak hahhaha… tangan dan kaki kami ntah udah kayak mana bentuknya, tahan ini tahan itu agar barangnya nggak jatuh. Ditambah lagi becak ini jalannya kayak keong, lamanya minta ampun.. soalnya nggak sanggup angkut beban. Untung becaknya nggak ambruk hahah
Setelah beberapa lama di perjalanan dan memasuki gang kecil akhirnya sampailah di kost. Nggak tega juga cuma ngasih 15 ribu, kami tambahkan lagi jadi 30 ribu. Urusan selesai. Bye abang becak bahahahhahaha….
Packing snack dalam bentuk bingkisan pun di mulai. Masih kami berdua yang mengerjakannya. Pukul 16.00 wib, 1 orang teman datang lalu 2 orang lagi datang setelah magrib. Semuanya selesai pada pukul 23.00 Wib. Ini hasilnya

Sabtu, 1 November 2014

Pukul 15.00 Wib, semua anggota Jungle Ghost Medan serta sebagian teman-teman dari HMJ & IMM FAPERTA UMSU telah berkumpul di Taman Birorektor pintu 2 USU

Pukul 15.30 Wib, Jungle Ghost Medan melakukan penyematan slayer oleh saya sendiri ke 9 anggota Jungle Ghost yang telah ikut bekerja keras dalam kegiatan ini. Diantaranya:

Anggota Jungle Ghost yang berhalangan untuk hadir sejak awal kegiatan akan menyusul pada acara berikutnya. Yaitu:

Acara penyematan slayer pun berjalan sukses. Semoga, dengan adanya Id Card dan tersematnya slayer di leher kami akan menjadi pengikat tali persaudaraan, menjadi pemicu semangat untuk terus peduli terhadap sesama serta tetap mencintai dan menjaga alam. Tetaplah berkarya Howghher !!!

Pukul 17.00 wib, kami mulai berangkat menuju posko. Sebagian ada yang menggunakan kendaraan roda 2 dan sebagian lainnya ikut menjaga barang di mobil angkutan. Di tengah perjalanan, kami diguyur hujan deras dan malam telah datang. Kami berteduh untuk beberapa menit menunggu hujan reda. Pakaian basah, badan menggigil dan lapaaaaaarr… hehehehe

Hujan tak kunjung berhenti, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kalau udah basah, yaaa mandi aja terusss…. Perut keroncongan membuat kami berhenti lagi dan membeli roti untuk menambal perut kemudian jalan lagi. Akhirnya pada pukul 20.45 wib kami tiba di Posko pertama yaitu KWK Berastagi. Kami makan malam bersama, cerita-cerita, dll kemudian beristirahat.

Minggu, 2 November 2014

Keesokan harinya, kami melakukan kegiatan bersih-bersih di posko tersebut. Pukul 09.00 wib, semua anak-anak kami kumpulkan untuk melakukan trauma healing dengan membuat games, bernyanyi dll.

Ditengah-tengah games, kami dikejutkan dengan bubarnya semua anak-anak karena diluar sedang hujan abu. Mereka mencari masker dan mengangkat semua kain yang tadinya telah dijemur.Ternyata baru saja sinabung erupsi lagi. Setelah semuanya selesai, kami membagikan snacknya kepada masing-masing anak.

Pukul 11.00, acara di posko KWK Berastagi telah usai dan kami pun pamit, setelah melakukan makan siang bersama, Pada pukul 14.00 wib kami melanjutkan perjalanan menuju posko desa Gurukinayan Kecamatan Payung, radius 5 km dari kawah sinabung dan termasuk kedalam zona merah.
Sepanjang perjalanan abu terus turun dan cuaca tidak terlalu panas. Sejenak, perjalanan kami terhenti. Gunung sinabung telah terpampang jelas di depan mata beberapa foto berhasil kami abadikan. Kemarahan alam memang tidak bisa di prediksi, redamlah amarahmu SINABUNG.

Pukul 14.45 wib, kami tiba di posko desa gurukinayan. Kami disambut hangat oleh para pengungsi namun tak satupun anak-anak mereka yang terlihat, ternyata sedang bermain di sungai.

Lama kami berbincang-bincang dengan para pengungsinya, ketika kami tanya mengapa harus mengungsi disini padahal daerah ini termasuk zona merah letusan gunung sinabung, jawaban mereka adalah “Kami berat untuk meninggalkan tempat ini, sawah dan ladang kami ada di lereng gunung, nak”. Kami hanya bisa diam mendengar jawaban itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, anak-anak mereka masih betah bermain disungai. Barang yang telah kami bawa pun kami titipkan kepada orang tua di posko itu.

Pukul 16.15 wib, kami pamit untuk pulang dan foto bersama dengan mereka. Rasa lega pun menyelimuti perasaan kami. Akhirnya, niat untuk berbagi tuntas juga. Karena kami melakukan semuanya bukan sekedar memegang kotak penggalangan dana lalu selfi atau foto kemudian sebar di sosmed dan mengatakan KAMI ADALAH PENDAKI GUNUNG DAN KAMI ADALAH RELAWAN. bukan !!! kami memiliki tatanan yang teratur, kami bertanggung jawab atas Id Card yang telah kami kantongi dan slayer kehormatan yang telah tersemat di leher kami. Terimakasih kerja kerasnya kawan-kawan, tetap sehat dan tetap jaga persaudaraan.

Pukul 18.45, kami telah sampai di Medan dengan selamat.