Kampung Urug





Masyarakat Kampung Urug menganggap bahwa mereka berasal dari keturunan Prabu Siliwangi, raja di kerajaan Pajajaran Jawa Barat.
Bukti dari anggapan tersebut di antaranya menurut seorang ahli yang pernah memeriksa konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug,

beliau menemukan sambungan kayu tersebut sama dengan sambungan kayu yang terdapat pada salah satu bangunan di Cirebon
yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran.Salah seorang keturunan Prabu Siliwangi yang dianggap leluhur kampong Urug bernama Embah Dalem Batutulis atau Embah Buyut Rosa dari Bogor.
Mereka tidak berani menyebut Embah Buyut Rosa, katanya “teu wasa bisi kasiku” (tidak berani takut kena bencana).

Asal-usul Kampung Urug berdasarkan latar belakang sejarahnya memiliki beberapa versi.
Perbedaan tersebut bukan terletak pada siapa dan darimana Ieluhur mereka itu,
akan tetapi terletak pada masalah tujuan atau motivasi yang menjadi penyebab berdirinya Kampung Urug.

Kata Urug dijadikan nama kampung, karena menurut mereka berasal dari kata “Guru”,
yakni dengan mengubah cara membaca yang biasanya dari kiri sekarang dibaca dari sebelah kanan.
Kata “Guru” berdasarkan etimologi rakyat atau kirata basa adalah akronim dari digugu ditiru.
Jadi seorang guru haruslah “digugu dan “ditiru”, artinya dipatuhi dan diteladani segala pengajaran dan petuahnya.

Jarak tempuh Kampung Urug dari Ibukota provinsi Jawa Barat lebih kurang 165 kilometer ke arah barat.
Jarak dari Ibukota Kabupaten Bogor lebih kurang 48  kilometer, dari kota kecamatan Sukajaya lebih kurang 6 kilometer,
sedangkan dari kantor Desa Kiarapandak lebih kurang 1,2 kilometer.

Kondisi jalan dari kantor kecamatan Sukajaya ke kampung Urug berbelok-belok naik turun mengikuti lereng bukit
dengan badan jalan yang sempit. Sepanjang jalan dari kantor kecamatan ke kantor kepala desa Kiarapandak sudah beraspal,
namun sebagian besar rusak berat. Jalan dari kantor desa ke kampung Urug, beraspal dan kondisinya cukup baik.
Ke lokasi dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Adapun menggunakan angkutan umum dari pertigaan Jasinga – Leuwiliang menuju ke Cipatat.
Dipertigaan jalan raya Cipatat dan jalan desa bisa menggunakan
ojeg sampai ke kampung Urug, atau bias juga menggunakan mobil Carry dari Jasinga – Leuwiliang sampai ke kampung Urug.



“I was not born for one corner. The whole world is my native land”- Seneca -